oleh: Giyarno Emha
Kemarau panjang, matahari berpendar di bumi
yang gersang. Angin garing, debu-debu kota
Hari-hari pun penuh duka, Sayangku, penuh duka
Di negeri kabut sunyi hanya sampai pada daun-daun
waktu. Dingin gemetar pada bibir bunga, pada jendela
pada rongga dada. Dan musim setia mencecah wajah
semesta. Jika dukamu pupus dan bumi pun kembali kudus
Telah lama bayang-bayangmu pun hilang dan hanyut
dalam kabut. Lautan menggelombang, aku dan engkau pernah karam
Segala pun susut, Sayangku, segala pun susut
Tinggal kegelapan dan maut, yang datang menerkam.
(1980)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar