oleh: Giyarno Emha
bahtera Nuh aku, yang terdampar di Gunung Ararat
bahtera Nuh aku, yang terdampar di Gunung Ararat
pada bulan ketujuh sesudah banjir bandang itu dan lima
puluh empat hari kemudian kulepas merpati yang tak pernah
lagi pulang. Berita itu pun sampai padaku: perjanjian!
Kubuka jendeka, kusibak cakrawala. Kutabur biji sawi
dan anggur di tanah kubur. Seperti nujuman pertapa itu
: penciptaan! Aku bangun kota, gedung-gedung menjulang,
jalan-jalan peradaban. Kudirikan Menara Babel dan telaga
darah, lalu padang Kurusetra di mana anak-anakku bertikam
kehormatan dan kebenaran, hingga banjir bandang itu kembali menghanyutkan kapalku sampai karam dalam relung
sejarah yang anyir oleh amisnya darah!
(Oktober 1985)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar