oleh: Giyarno Emha
Kudengar senandung luka lewat suara sumbang bocah pengamen dan pengemis, ketika senja baru saja turun dan waktu berhenti dalam gerimis. Bus senantiasa datang dan pergi, menembus lorong-lorong kabut, ke kota-kota tak bernama
Kudengar senandung luka lewat suara sumbang bocah pengamen dan pengemis, ketika senja baru saja turun dan waktu berhenti dalam gerimis. Bus senantiasa datang dan pergi, menembus lorong-lorong kabut, ke kota-kota tak bernama
yang tak ada dalam peta
Selalu ada yang pergi, selalu ada yang tiba. Tanpa tujuan. Tanpa mula. Dalam bus tak bersopir. Tak berkaca. Lewat jalan-jalan
tak berujung. Ke rumah-rumah tak beralamat. Ke ujung waktu yang tak terbaca. Ke buku-buku tanpa aksara
Angin berhenti entah di mana ketika kudengar jeritan
aneka rupa. Langit terbakar sunyi yang dulu juga
sebelum hari-hari membeku di beranda setelah berabad-abad rinduku terkubur dalam debu, melewati perang demi perang dalam kesunyian Golgotha.
Kalau saja bus tak senantiasa pergi dan kita tak senantiasa mengembara, barangkali di terminal ini ada tugu yang mengabadikan nama-nama. Dan derita kita.
(April 2004)
Antologi 20 Penyair, Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar