oleh: Giyarno Emha
kepada chaerani ch.
kepada chaerani ch.
1
begitulah tiba-tiba kita terlena dalam asap rokok
di Cipanas
dan diam-diam membuat jejak
di cakrawala
adakah yang akan kita buru atau kita lupakan
derum mesin dan roda-roda
dan kegelapan hidup dan bisik-bisik kabut
tiang kawat dan kita yang saling berebut
dengan duka dan cewa
yang itu
juga
di kota ini kau dan aku seperti berlomba
siapa yang lebih dulu tinggal gema
dengan minum baygon
atau menyilet nadi tangan sendiri
ketika kaubilang laut makin menderu
kujawab: mungkin begitu!
2
kita kulum detak jam dan kemarau
segala yang memberat dan mendera
kita kunyah senja dan rahasia abadi
segala yang luput dan khayali
seperti Odysseus pergi mengembara
menjejak rengkah semesta, kota demi kota
begitulah, kita bikin semuanya jadi putih
begitulah, kita bikin jadi putih semuanya
kalau saja bisa kita bunuh tanya
kalau saja bisa kita tangkap angin
kalau saja bisa kita jala sunyi
kalau saja bisa kita raup cahaya
kalau saja bisa kita meniada Ada
hidup adalah sederet huruf dan aksara
mencang-mencong dan tak tereja
3
tutuplah jendelamu, kataku
salju akan turun di beranda
sepanjang tahun
cuaca pun jadi dingin
menggigilkan sepi
dan rinduku-rindumu, yang fana
di luar dinding anak-anak kabut bermain
dalam angin, barangkali ada yang ditunggu
mungkin kau-aku yang kian jauh berjalan
mengeja aksara kehidupan
ini Alpha
ini Omega
lalu tersentak tiba-tiba
: sekarang, jam berapa?
tutuplah jendelamu, sebelum sunyi dikekalkan
bayang-bayang yang sebentar pergi dan kembali
di belukar kenangan
tak hendak menyapa siapa kita kini
dunia telah sunyi dan kita pun terpuruk
memanggul matahari
4
lihat, matahari tiba-tiba bangkit dari Selatan
waktu yang asing, merayap menuju N
yang sejak lama berhenti di Utara
ah, siapa yang membagi-bagi sepotong roti
dekat padang hijau
ketika Kain membunuh adiknya!
sudah sore, katamu
malam kemudian turun dan bumi pun tertegun
kautanggalkan jubahku dan kubuka gaunmu
serbatelanjang kita saling tatap
sempurna dalam keasingan
5
mungkin ada yang memisahkan kita
: kegelapan!
memburu bayang-bayang
dalam kabut, kehadiran
teka-teki panjang kekosongan
kita terus bergerak, pendakian ke puncak
hakikat dan ada
antara rinduku dan dunia
kota-kota lengang
maka kubangun candi, untukmu
jika duka pun abadi
rumahku yang akan datang
6
tinggal kantuk dan penat, sehabis perjalanan
mungkin juga jejak kaki di tanah retak
atau hanya batu berserak
jangan berkesah! katamu
bagai kabut memuncak
di jemari terselip berahi
dan cinta yang menduri
jam tua dan cicak di dinding
berbisik tentang dunia
yang tiba-tiba hening
aku pun mendengar isyarat langit dan cuaca
ketika angin menggeliat bersama senyap
merayap di jendela
ranjang berderit dan cinta pun bangkit
dalam dendam dan rindu dan luka
sehabis perjalanan, yang tinggal hanya pasrah
disergap bayang-bayang maut: keheningan
dan sepi ngelangut
dengan senyum putih aku berjaga
pada bianglala!
(1984)
Antologi 20 Penyair, Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar