12 Desember 2011
Ejakulasiku yang pertama terjadi bukan karena perempuan. Bukan pula (maaf!) onani. Tetapi, karena buku!
Tak teringat lagi kapan persisnya pengalaman absurd itu berlangsung. Yang pasti, pada suatu malam di kamar mandi, ketika duduk di bangku kelas III (SMP) seminari. Ya, aku memang bersekolah di seminari -- sebuah lembaga pendidikan khusus yang siswa-siswanya diarahkan untuk menjadi pastor. Dan pastor, Anda tahu, hidup selibat. Membujang seumur hidup. Artinya, wajib steril dari cinta-cintaan dan coitus.
Hidup di asrama, bagai siklus yang selalu berulang. Bunyi lonceng (bel) menjadi penanda waktu untuk mandi, rekreasi, tidur, belajar (di ruang studi), bersekolah (di ruang kelas), makan, berdoa dan seterusnya. Tentu saja, ada sekian aturan yang wajib dipatuhi. Pada jam tidur umpamanya, berlaku hukum silentium magnum -- bangsal mesti sunyi senyap! Bicara, meski sekadar bisik-bisik, dilarang. Pelanggaran bakal mendatangkan teguran atau hukuman. Praktis, yang namanya kebebasan (untuk remaja di usia pubertas) nyaris tak bersisa.
Surat-suratan memang dibolehkan, namun (ternyata) harus melalui lembaga sensor. Tiap surat yang dikirimkan atau diterima dipantau ketat. Berkirim surat kepada cewek? Bisa gawat. Pasti dipanggil dan diinterogasi. Mesti cerdik jika hendak "pacar-pacaran". Nama sang gadis perlu disamarkan dengan nama laki-laki. Isinya pun tak perlu macam-macam. Harus jauh dari konotasi, apalagi denotasi, kangen-kangenan atau sayang-sayangan. Jika tidak, akibatnya bisa runyam! Perkara ini sesungguhnya layak dimaklumi. Tentu saja, calon pastor diharamkan belajar cinta-cintaan!
Untuk buku dan majalah juga ada rambu-rambunya. Memang, tersedia ribuan buku dan majalah (aku pernah dipilih sebagai ketua perpustakaan). Novel, roman, kumpulan sajak, telaah sastra -- dari sastra Indonesia hingga dunia -- seabrek! Apalagi buku-buku bertema filsafat, agama, dan teologi (kebanyakan berbahasa asing, dari Inggris, Belanda, hingga Latin). Novel pop, karya Abdulah Harahap atau Freddy S? Tak satu pun tersedia.
Majalah? Yang ada Sastra (setelah ditutup lantaran kasus Langit Makin Mendung diganti denganHorison), Basis, Budaja Djaja, Window of the World, Praba dan semacamnya. Jangan harapkan majalah hiburan yang pada dekade itu tengah "ngetop", seperti Variasi, Varia, Aktuil, Selekta dan sejenisnya yang memuat banyak foto artis cantik. Para calon pastor mesti terjauhkan dari aneka media yang beraromakan simbol-simbol seksualitas perempuan.
Toh, bukan berarti bangsal tidur steril dari majalah-majalah pop semacam itu. Biasanya, sepulang libur kuartalan, ada saja siswa yang diam-diam membawa majalah "begituan" ke asrama. Secara subversif majalah itu akan beredar dari satu tangan ke tangan lainnya. Jika tidak memungkinkan untuk diam-diam dibaca di ruang studi (kalau dipergoki tutor atau pengawas, bakal runyam!), bisa dipelototi di kamar mandi pada jam tidur malam (di atas pukul 22.00 WIB). Ini pun wajib ekstrawaspada, agar tidak diketahui pengawas yang sekali waktu meronda!
Nah, ada sebuah buku tipis yang juga beredar secara subversif. Judulnya keren (jika bukan sadis): Janda yang Liar. Pengarangnya? Enny Arrow (sekian tahun kemudian, setelah menjadi urban di Bandung baru kuketahui pengarang yang konon misterius itu memang spesialis cerita-cerita cabul). Tak kuingat pasti siapa yang menyelundupkan buku stensilan itu ke asrama. Yang pasti, pada suatu hari jatuh ke tanganku. Dan, sembunyi-sembunyi aku membacanya di kamar mandi lewat tengah malam. Isinya? Tak sulit untuk menduganya. Kurang lebih, sama saja dengan film biru model 3X yang kini luas beredar. Kelewat eksplisit. Sangat kasar. Seratus persen vulgar.
Buku haram itu membuatku gegar otak sekaligus gegar syahwat. Bukan hanya celanaku mendadak basah (jelas bukan ngompol!), otakku juga sempat mengalami fase obsesif yang membingungkan. Katanya, seks manifestasi cinta. Kok diobral?
Persepsiku tentang aktus seksual juga bergeser, jika bukan bertambah "kaya". Rupanya, hubungan intim tidak hanya boleh lembut dan tenang. Tidak cuma melenguh dan berbisik-bisik. Ternyata, boleh juga menjerit-jerit seperti orang kerasukan setan. Boleh berisik....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar