Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (12)

20 Desember 2011

Apa yang tersirat dari balik hot pant, tank top dan rambut pirang?
Sudah barang tentu, di mana-mana orang bakal ngedong apa yang  tersurat dari balik tank top danhot pant. Begitu pula di kampungku. Yang mungkin sedikit membedakan, ditambah dengan rambut yang dicat merah, kuning, atau pirang, ragam pakaian perempuan itu ternyata menyiratkan sesuatu sehingga catatan kecil ini perlu dibuat. Hot pant, tank top dan rambut pirang yang simpang siur di Pohsarang membuatku gelisah. Bukan karena diam-diam menelan air liur. Bukan! Justru, maaf! -- membuatku tak tahan untuk tidak menjulurkan lidah!
Tak ada yang bilang, orang kampung tak boleh modis atau trendi. Fashion bukan monopoli orang kota, yang relatif tentu lebih melek mode, dan lebih well informed terhadap berbagai bentuk gaya hidup mutakhir yang tengah -- meminjam istilah di dunia sepak bola -- onfire. Juga, lebih berkemampuan untuk buru-buru mengikuti perubahan gaya hidup dan trend  mode, lantaran punya uang.
Meski senantiasa terlambat dalam mengikuti arus fashion yang sedang in, toh sebagian penduduk kampung merasa perlu tampil trendi dan seksi. Setidaknya, meniru-niru penampilan para pesohor yang biasa berseliweran di kotak ajaib yang disebut televisi.
Dahulu pun aku begitu, meskipun tidak seratus persen sadar tengah meniru-niru gaya berdandan orang-orang gedongan di perkotaan. Tanpa sengaja, aku pun berlagak trendi meski pekerjaan sehari-hari berkubang lumpur di kedokan sawah atau tegalan. Tiba-tiba saja rambutku kubiarkan gondrong. Celanaku cutbrai -- yang bagian bawahnya lebar dan jika dipakai berjalan melambai-lambai menyapu tanah. Sepatu berhak tebal dan tinggi. Jika dipakai berjalan, bunyinya bikin telinga pekak. Jika kena lemparan, maling ditanggung langsung pingsan.
Kelak kuketahui, rambut gondrong itu merupakan salah satu simbol pemberontakan generasi muda era itu -- konon bernama flower generation (generasi bunga) yang antiperang, antikemapanan dan antimodernisasi yang dianggap telah menimbulkan kegersangan spiritual. Sebuah generasi yang selain merindukan kebebasan, juga mendambakan koeksistensi yang harmonis dengan alam lingkungan. Menurut catatan sejarah kebudayaan, pada waktu yang hampir bersamaan lahir pula gerakan nudisme (seingatku pada kurun 70-an, bule-bule yang telanjang bulat sempat berkeliaran di Pantai Kuta) dan feminisme yang hendak membebaskan dada dari kutang.
Rambut gondrong sempat dianggap semprul dan tidak cocok untuk kepribadian bangsa, seiring dengan kebijakan politik Bung Karno yang sedang menalak Barat. Di Kediri pun polisi tak hanya melakukan razia untuk peneng sepeda, tetapi juga rambut kepala anak muda. Yang gondrong kena tilang. Caranya? Rambut dibabat semau-maunya sehingga si pemilik kepala terpaksa buru-buru ke tukang cukur untuk merapikannya. Kalau ingatanku belum lapuk, belakangan muncul tilang jenis lain. Celana panjang model ketat (umumnya dari bahan korduroi) yang tengah mewabah juga dianggap berhala. Mode ini pun kena razia. Kalau botol kecap tak masuk, polisi pun cekatan membelahnya.
Hingga kini, orang-orang di kampungku tetap berjuang mati-matian agar tidak out of date. Tak mau dikategorikan katro atau ndesit. Trend mode yang hilir mudik di televisi dipelototi. Makhluk-makhluk necis dan wangi dari berbagai kota besar yang berwisata ke gereja dan Gua Maria sembunyi-sembunyi dipendeliki. Banyak orang ingin tampil fashionable. Syukur-syukur, tidak hanya trendi. Kalau mungkin, seksi.
Bisa jadi, agar trendi atau seksi itulah, belakangan hot pant, tank top, dan rambut pirang digandrungi.
Lihatlah motor yang tiada hentinya ngetan-ngulon. Dari pagi, siang, hingga malam, para remaja dan ibu rumah tangga hilir mudik di atas kuda Jepang, dengan ber-tank top dan ber-hot pant. Jangan bayangkan dada dan pinggang serbaindah atau serbaramping. Jangan bayangkan pula paha dan betis serbamulus atau serbalangsing. Pinggang dan dada yang mencang-mencong formatnya bisa ber-tank top. Paha dan betis hitam kusam dan penuh "luka perang" pun bisa ber-hot pant.
Apa pun bentuk dan kondisi badan, yang penting hot pant dan tank top dikenakan. Serasi tidaknya urusan belakangan. Bakal sedap dipandang atau tidak, tak perlu dirisaukan. Bahwa, di mata orang bakal tampak konyol, atau bahkan menjijikkan, tak pernah diperhitungkan. Bahwa, yang terhidangkan terlihat pating pecotot, tak pernah diperkirakan. Mungkin saja, memang tak sempat dipertimbangkan, berkat cupetnya nalar dan dangkalnya wawasan. Sekurang-kurangnya, tak punya cermin untuk berkaca. Kalaupun berkaca, mata tak cukup awas untuk mampu melihat badut buruk yang berdiri di hadapannya.
Juga bukan soal, jika hot pant dan tank top yang penuh gaya itu hanya produk abal-abal dengan kualitas murahan, yang banyak bergelantungan di toko pakaian dan pasar tradisional. Prinsipnya: tampil trendi, seperti artis di televisi.
Tank top dan hot pant belum lengkap. Rambut boleh dan bisa dicat. Bisa kuning. Bisa merah. Bisa pirang. Seperti bule. Kalau perlu di-highlight warna-warni, biar seperti pelangi. Kini sempurnalah sudah: bawahan hot pant, atasan tank top, dan rambut yang biasa dilukiskan sebagai mahkota wanita itu bercat kuning, merah atau pirang. Tidak pagi, siang atau malam, tinggal melenggang -- yang tragisnya -- ke "wilayah abu-abu" atau "daerah remang-remang".
Di kota besar, cewek-cewek dengan dandanan kontemporer seperti itu bergelimpangan di mana-mana, dari mal megah sampai gang kumuh yang rumah-rumahnya saling bertindihan. Tak terlihat aneh atau janggal. Tetapi, khusus untuk kasus Pohsarang dan sejumlah desa tetangga di sekitarnya, ada yang sedikit menghebohkan pikiran. Jika dicermati, yang ber-hot pant, ber-tank top dan berambut kuning, merah, pirang, atau highlight warna-warni  umumnya punya status "istimewa": (1) lulusan TKI di luar negeri; dan (2) purel atau gadis/perempuan (yang pernah) nakal.
Pengalaman bekerja sebagai TKW (rata-rata pembantu rumah tangga) di Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan (ketiganya terhitung tujuan  terfavorit) ternyata mengakibatkan perubahan yang signifikan. Tidak hanya pada orientasi dan gaya hidup. Yang mengerikan, jangan-jangan juga berdampak buruk pada dimensi moral dan tingkah laku. Begitu pulang ke kampung, bukan saja tersulap jadi wanita penuh gaya dengan dandanan trendi ala luar negeri. Tetapi, juga menjelma jadi pribadi yang retak. Bukan cerita baru jika sebuah rumah tangga malah jadi bubrah dan berakhir dengan perceraian begitu istri bekerja di luar negeri. Yang masih lajang, survei kecil-kecilan menunjukkan, pun mengalami keguncangan moral. Salah satunya, gampang menyempal dari paugeran normatif dengan pola seks yang longgar.
Dan, entah mengapa, perempuan muda yang bekerja sebagai purel atau perempuan yang (pernah) bengal (dalam pengertian negatif: permisif dalam seks) umumnya juga gemar ber-hot pant, ber-tank top dan berambut merah atau pirang.
Purel? Mungkin Anda bingung. Ini kosakata baru. Kata itu identik dengan gadis pemandu berkaraoke di tempat-tempat karaoke yang menjamur di Kediri. Purel rata-rata masih muda atau belia. Rata-rata juga punya latar kehidupan pribadi yang bermasalah. Sumber informasi yang layak dipercaya malah menegaskan, purel umumnya sekaligus punya profesi sampingan: biasa dibawa kencan oleh para hidung belang!
Ah, mudah-mudahan semua itu salah dan hanya produk stigmatisasi sosial...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar