Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (3)

9 Desember 2011

Semiskin-miskinnya orang kampung, sunatan anak senantiasa dirayakan dengan hajatan. Dengan suguhan ala kadarnya -- itu pun bisa hasil ngutang -- acara jagongan jadi meriah. Dengan bebetansarung, aku juga rajin jagong. Pretensinya mirip arisan. Kelak, jika tiba waktunya disunat dan bikin hajatan, banyak anak yang datang jagong. Setidaknya, yang pernah dijagongi, berkewajiban datang untuk "mengembalikan" utang jagongan.
Celakanya, aku takut disunat. Bayangan pisau mantri khitan sungguh mengerikan. Jika teman-temanku rata-rata minta disunat pada usia SD, aku baru berani melakukannya di kelas II SMP. Itu pun dengan syarat, dilaksanakan secara diam-diam. Tanpa acara hajatan. Maka, pas libur kuartalan dan pulang kampung (aku tinggal di asrama Seminari Menengah Garum, Blitar), dengan naik dokar aku dibawa ke tempat praktik khitanan seorang mantri.
Irisan pisau mantri ternyata tak sesakit yang kubayangkan. Yang menyakitkan justru kejadian tragis ketika berendam di kali. Hari itu pas Lebaran. Kalau tak salah ingat, lima hari pascasunat dan luka mulai mengering. Tiba saatnya untuk berendam agar perbannya cepat tanggal. Tololnya, aku berendam di sungai yang airnya kuning kecokelatan karena banjir semalam. Kesialan pun terjadi. Tiba-tiba ada sesuatu yang melanda "otot besarku". Begitu sakit, sehingga aku menjerit dan sontak berdiri. Perban telah lepas dan hanyut entah ke mana. Tetapi, sedikit berdarah...
Rupanya, seekor kodok sialan telah melanggar "ituku".....
Oh iya, Anda tahu mengapa akhirnya aku berani disunat? Ada beberapa alasan: (1) sesuai adat, orang Jawa harus sunat, bahkan Yesus Kristus pun disunat; (2) aku capai diejek sebagai orang China yang tidak disunat (padahal, tidak kuketahui secara pasti apakah laki-laki China memang tidak dikhitan); dan (3) dengan disunat, seks bakal lebih nikmat.
Alasan ketiga itulah motif paling penting yang membuatku berani disunat. Betul atau ngawur, tak tahulah. Di kemudian hari di buku seksologi kubaca: tidak ada korelasi apa pun antara sunat dengan kenikmatan seksual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar