oleh: Giyarno Emha
Di ujung gang ini, gelisahku meleleh seperti nanah dari selangkangan luka. Telah lama kubawa ke mana-mana sebelum akhirnya diterbangkan angin petang yang dulu selalu kautunggu di tepi ladang menjelang malam tak berbulan. Mungkin tak
Di ujung gang ini, gelisahku meleleh seperti nanah dari selangkangan luka. Telah lama kubawa ke mana-mana sebelum akhirnya diterbangkan angin petang yang dulu selalu kautunggu di tepi ladang menjelang malam tak berbulan. Mungkin tak
bakal pernah sampai di sini andaikan selalu kaubuka jendela kamarmu ketika petang jatuh dan kunang-kunang melayang
dari bintang-bintang yang jauh dan rindu itu
disimpan rapi dalam cahaya
Di ujung gang ini, selalu ada suara-suara yang hanyut dalam kabut seperti gemersik angin yang mengangkut senja demi senja ke negeri-negeri sunyi tak bernama
Seperti sungai-sungai yang membangunkan batu-batu
Seperti kemarau yang membakar hutan-hutan
Seperti badai yang menenggelamkan pulau-pulau
Seperti musim yang menidurkan rumputan
Seperti kita, yang tak habis berjaga
Dari satu ruang ke ruang
Sampai subuh tiba
(Mei 2004)
Antologi 20 Penyair, Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar