Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (2)

8 Desember 2011

Di masa kecilku (kurun 60-an), aku maniak berat terhadap wayang kulit, sampai-sampai punya sekotak wayang yang asli kulit sapi (buatan bapak dan pemberian kerabat) dan sempat bercita-cita jadi dalang. Aku rela berjalan berjam-jam ke desa yang jauh agar bisa menonton pentas wayang. Bukan soal, jika tanpa uang jajan, sekadar untuk beli sepincuk pecel atau sebungkus kacang goreng.
Yang konyol, di tengah pertunjukan (biasanya sekitar segmen goro-goro selewat tengah malam) aku gagal menahan kantuk dan akhirnya tergolek tidur berkemul sarung. Untuk urusan ini, gampang saja di tempat wayang. Di mana pun bisa tidur nyenyak. Yang menggelikan, pernah tidurku terlalu lelap dan terbangun ketika tempat hajatan sudah sepi dan matahari telah tinggi.
Nah, urusan tidur itulah yang pada suatu waktu -- entah kebetulan entah sengaja direncanakan oleh Tuhan -- mendatangkan peristiwa istimewa yang kukira ikut memengaruhi "sesuatu" dalam diriku dan sedikit banyak ikut menentukan jalan hidupku di kemudian hari.
Tak kuingat pasti, pertunjukan wayang itu berlangsung di Dusun Bongas atau Gambiran. Yang jelas, ketika goro-goro aku menemukan suatu tempat tidur yang sangat nyaman dan empuk (waktu itu kata "kasur" pun belum pernah kudengar): tumpukan damen (jerami kering, untuk pakan sapi di musim kering). Tidurku belum lama, ketika terbangun karena mendengar suara-suara aneh. Ada kersik gesekan jerami yang terus berulang. Diselingi bunyi napas ngos-ngosan. Dan, suara-suara ganjil. Bunyinya : (kurang lebih) "ah-uh-oh"!
Betul.... Ada orang bersanggama tak jauh dari tempatku meringkuk. Otomatis, aku takut bangun dan tak berani bergerak dan pura-pura terus tidur dan diam-diam menahan debaran jantung yang gegap gempita dan sembunyi-sembunyi "menikmati" geliat ajaib pada otot kecil di antara paha.
Pengalaman itu mendatangkan pengertian sederhana: (1) seks ternyata bisa dilakukan tidak hanya di amben bertikar dalam bilik di rumah; (2) seks itu ternyata bikin letih (buktinya napas si laki-laki yang karena gelap tak dapat kukenali wajahnya ngos-ngosan);  (3) seks pastilah enak karena sesudahnya si perempuan beberapa kali cekikikan; dan (4) kapan-kapan aku ingin mencobanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar