15 Desember 2011
Kosakata yang khas di dunia pertanian itu disebut ani-ani, derep dan babat pari.
Ani-ani, jelas merujuk pada sebuah alat metal setipis silet yang dipergunakan kaum wanita pedesaan untuk mengetam padi di masa panen. Derep, bermakna partisipasi memanen padi dengan sistem upah berupa bawon. Dan babat pari, lebih menunjuk pada cara memanen padi dengan sabit untuk membabat batang padi.
Sampai kurun 60-an, setidaknya di daerah kelahiranku (Kediri), pada musim panen biasanya kaum perempuan yang ikut derep. Laki-laki jarang turun ke kedokan karena tidak telaten dan tidak mahir menggunakan ani-ani. Siapa saja boleh ikut derep. Upahnya berupa gabah dalam sistem kerja yang disebut bawon. Berapa banyak bawon yang didapatkan penderep tergantung pada jumlah gabah yang berhasil diunduh, plus pola takaran yang ditentukan oleh si pemilik sawah. Misalnya, pola 10 : 1. Artinya, 10 takaran untuk pemilik sawah, dan 1 takaran sebagai upah bagi si penderep. Ada pula pola 9 : 1, atau 8 : 1. Bahkan, ada yang kelewat kikir dengan menganut pola 11 : 1 atau malahan 12 : 1. Celakalah bagi si kikir, karena sedikit saja perempuan yang bersedia mengetam di sawahnya.
Pada kurun 70-an, sistem ani-ani ditinggalkan, karena dinilai kurang efisien. Ani-ani diganti dengan sabit. Dimulailah era baru dalam kultur panen: padi bukan diketam dengan ani-ani pada tangkainya, melainkan dibabat dengan sabit pada pangkal batangnya untuk kemudian digebuk-gebukkan pada papan kayu yang disiapkan agar bulir-bulir padinya berontokan. Dengan model babat ini, pemilik sawah punya keuntungan ganda. Pertama, waktu yang dibutuhkan untuk menuai lebih cepat. Kedua, jerami padi yang sudah dibabat tinggal dijemur dan dibakar setelah kering. Kerugiannya, tak sedikit butir-butir gabah berceceran dan terbuang ketika dibabat maupun digebuk-gebukkan.
Pada kurun 90-an, menurut cerita simbok dan tetangga, derep di sawah mulai dijauhi. Zaman telah jauh berubah. Banyak orang tidak mengiler lagi pada gabah bawon. Derep dinilai tidak lagi menguntungkan. Banyak orang lebih memilih pekerjaan lain di luar area pertanian. Generasi muda lebih menyukai aneka profesi modern. Yang beruntung bisa menjadi guru, polisi, tentara, atau pekerja kantoran. Yang sial, cukup menjadi kuli bangunan, satpam, tukang parkir, sopir truk atau kenek angkutan pedesaan. Para gadis memilih jadi buruh pabrik atau TKI ke Malaysia dan Arab Saudi. Tinggal orang-orang tua yang bersedia derep, itu pun perlu iming-iming tertentu, misalnya bonus berupa makan siang yang disediakan pemilik sawah.
Kini, di dekade pertama abad ke-21, para petani yang sawahnya luas tak perlu pusing cari penderep. Banyak orang butuh jerami padi sebagai pakan ternak peliharaan (sapi). Merekalah yang rela membabat padi secara cuma-cuma. Bahkan, tak sedikit yang bersedia membeli jerami padi itu dan pemilik sawah tinggal mengusung gabah hasil panennya ke rumah.
Dahulu, aku pun sempat kenyang babat. Maklum, zaman serbasusah, ketika beras tak mudah terbeli karena uang sulit dicari. Sebatok dua batok gabah bawon sangat berharga, untuk menambal sulam kebutuhan hidup yang serbarudin. Akibatnya, jumlah penderep rutin membeludak, sementara sawah yang dipanen jelas terbatas. Para pemilik sawah tak kehilangan kiat. Untuk membatasi jumlahpenderep, babat pun dilakukan malam hari. Itu pun diam-diam, atau sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang "haus bawon" juga tak kekurangan akal. Agar tak kecolongan, tiap malam rela berputar-putar di sawah-sawah yang kebetulan padinya sudah siap panen. Kalau perlu begadang semalam suntuk. Bahkan, tak sedikit yang "menginap" di tengah sawah.
Begitu pula aku. Musim panen berarti masa begadang yang meletihkan sekaligus menyebalkan. Tiap saat mesti waspada dan siaga, jika tak hendak ketinggalan babat. Simbok memang butuh bawon untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Dan, sebagai anak sulung yang menginjak dewasa, adalah kewajibanku untuk membantu-bantu. Maka, hampir tiap malam terpaksa berkeliaran untuk mengintai sawah siapa yang hendak dibabat. Apalagi, jika siang atau sorenya telah terdengar isu tentang sawah si Dadap atau si Waru yang bakal dibabat nanti malam. Berbekal sabit, berkemul sarung dan beberapa batang rokok, melanglang malam. Tidak selamanya beruntung. Terkadang terkelabui isu. Kecele. Yang dibabat justru sawah berbeda. Itu belum termasuk serangan kantuk dan gangguan aneka hewan, dari nyamuk, semut, kelabang, atau bahkan ular yang tak jarang ditemui selama nongkrong di area persawahan. Bagiku, yang paling menyebalkan, jika kehabisan stok rokok. Acap terjadi, tembakau puntung rokok dilinting sendiri, untuk memenuhi kebutuhan mulut yang kecanduan racun tar dan nikotin.
Tak selamanya menyebalkan. Ternyata, ada juga yang menyenangkan. Mengasyikkan, malahan. Menunggu babat padi di gelapnya malam tidak mesti sendirian. Kadang-kadang berdua dengan simbok. Kali lain dengan tetangga, entah berempat, bertiga, berdua... Nah, yang asyik jika berdua saja, bukan dengan nenek-nenek tentunya. Misalnya, dengan "dik-dik" atau "mbak-mbak". Duduk berendengan. Atau, meringkuk berendengan. Sambil mengobrol ngalor-ngidul. Sambil...jika beruntung, bisa sedikit "senggol-senggolan" atau bahkan "uyel-uyelan"!
Tak usah kaget, jika musim babat di dinginnya udara malam bisa dimanfaatkan oleh pasangan selingkuh untuk indehoi. Dan, seperti artis di lokasi syuting, "cinlok" -- cinta lokasi -- pun bisa terjadi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar