oleh: Giyarno Emha
Anak kabut itu merayap dalam angin dan melayang jauh ke ladang jagung di bukit lengang itu ketika petang merambat turun, menghela-hela gelap dan sepotong bulan yang cahayanya menghilang dalam sajak yang telah lama kutulis dan semalam raib dalam lorong-lorong kota yang berbau kotoran. Anak kabut itu kukira kijang yang tersesat dari negeri dongengan setelah berabad-abad hutan dibabat, atau burung yang terbang dari buku komik bergambar setelah berabad-abad pohonan ditebang.
Anak kabut itu merayap dalam angin dan melayang jauh ke ladang jagung di bukit lengang itu ketika petang merambat turun, menghela-hela gelap dan sepotong bulan yang cahayanya menghilang dalam sajak yang telah lama kutulis dan semalam raib dalam lorong-lorong kota yang berbau kotoran. Anak kabut itu kukira kijang yang tersesat dari negeri dongengan setelah berabad-abad hutan dibabat, atau burung yang terbang dari buku komik bergambar setelah berabad-abad pohonan ditebang.
Barangkali, koran atau televisi bakal memampang berita kehilangan, tentang anak kabut yang lepas dari langit sebelum akhirnya merayap dalam angin dan melayang jauh ke ladang jagung dekat rumahmu di bukit yang dulu lengang. Kukira anak kabut itu kembali melesat pergi untuk mengejar bahtera Nuh yang terapung-apung dalam gelombang, menjelajah samudera demi samudera sebelum akhirnya tersesat di balik kakilangit. Atau, tiba-tiba tergoda oleh cahaya pagi yang datang dari luar galaksi sebelum akhirnya mengembun pada selembar daun yang setiap kali mendesir oleh tiupan angin petang.
Anak-anak kabut itu yang dulu menuntunku ke jalan setapak menuju rumahmu di kaki bukit akasia yang saban tahun dibakar kemarau, setelah lonceng gereja di lembah hijau dekat kali kecil itu dua belas kali berdentang. Selalu ada yang menyuruhku menoleh ke belakang setiap melihat anak kabut itu mendadak menyelinap di dekat tembok-tembok kota yang sekian lama mengungkungku dalam keterasingan yang membingungkan dan selalu rindu untuk kembali ke jalan setapak menuju rumahmu di bukit akasia yang kini telah berubah menjadi belantara gedung-gedung megah dengan kerlap-kerlip lampu merkuri yang menyamarkan cahaya rembulan.
Aku selalu merindukan anak kabut yang melayang turun dekat jendela rumahmu.
Aku selalu merindukan wangi rumputan yang meruap dari geriap rambutmu.
(Jalan Panjang, Desember 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar