Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (13)

21 Desember 2011

Siapa bilang desa identik dengan kesunyian, atau ketenangan? Sebaliknya, kampungku justru berisik.
Lihatlah. Hampir tiap menit kendaraan bermotor melintas di jalan. Sepeda motor. Mobil. Truk. Bus. Juga "ledok" --sebentuk mobil-mobilan yang mengangkut alat penggilingan gabah (selepan) yang disulap dari mesin diesel mobil rusak. Juga kendaraan sejenis yang membawa gergaji mesin untuk menebang kayu. Hilir-mudik. Nyaris tanpa henti. Gerung mesin alat transportasi modern yang rakus BBM itu tiap waktu menderu-deru. Ada yang suaranya memekik-mekik dan menghardik. Memekakkan telinga.
Sesungguhnya tidak aneh jika kini jauh dari tenang. Setelah gereja tua direhabilitasi dan gua Maria dikembangkan menjadi mimesis Gua Lourdes di Prancis, Pohsarang memang moncer sebagai salah satu objek wisata spiritual yang populer di lingkungan umat Kristiani. Tiap waktu ada saja wisatawan yang datang bertandang. Bukan saja berasal dari Kediri dan sekitarnya. Juga dari kota-kota jauh di luar Pulau Jawa. Sekali waktu malah rombongan dari daerah antah-berantah yang sukar ditemukan dalam peta. Untuk berbagai maksud dan tujuan. Entah berziarah dan berdoa. Entah sekadar berwisata. Dan, tidak semuanya Kristiani. Tidak sedikit yang ternyata non-Nasrani. 
Tak sulit untuk dibayangkan betapa gaduhnya jalan. Apalagi pada hari raya, termasuk Idul Fitri. Atau, musim liburan. Tiap saat jalan sempit yang tak cukup lempang untuk dua bus bersimpangan itu tak pernah lengang. Sekali tempo, ini yang aneh bin ajaib, bisa macet total. Padahal, beberapa dasawarsa silam, satu-satunya kendaraan bermotor yang rutin mondar-mandir hanyalah truk pengangkut kayu atau batu. Sekali-sekali sepeda, dokar atau cikar. Selebihnya, rombongan kambing, sapi, atau kerbau yang digiring bocah angon. Kini, riuh rendah. Bukan hanya mobil kelas menengah ke bawah. JugaMercy, BMW, Audi, Hummer sampai Jaguar. Aku yakin, sebagian besar tetanggaku tak pernah tahu harga mobil-mobil mewah itu. Juga tak pernah tahu, walaupun hidup dua kali sebuah Hummer atauJaguar belum tentu terbeli.
Tanpa kendaraan kaum turis itu bukan berarti sepi. Kaum tetanggaku sekampung bukannya tak punya sepeda motor (selanjutnya sebut saja motor). Bahkan, sebagian sudah ber-"montor". Ya, "montor". Jangan rancukan dengan motor. Menurut pemahaman orang di kampungku, kata "montor" dipergunakan untuk menyebut kendaraan beroda empat, dari mobil (sedan, pick up, jip, dll) hingga truk.
Kalau disensus, hampir setiap rumah punya motor. Malahan, ada yang lebih dari satu biji. Mungkin saking pentingnya alat transportasi yang didominasi oleh produk Jepang itu sehingga ayah, ibu dan anak punya motor sendiri-sendiri. Sang ayah butuh, agar lebih efisien sekaligus bergaya jika hendak ke sawah. Anak perlu, untuk pergi ke sekolah. Dan, sang ibu juga membutuhkannya untuk belanja ke pasar atau warung sebelah. Paling tidak, untuk war-wer sana-sini -- penting tak penting, perlu tak perlu.
Tampaknya, motor begitu penting dan perlu, meskipun untuk tujuan yang penting tak penting dan perlu tak perlu. Bukan semata lantaran fungsinya sebagai alat transportasi yang jelas memperpendek jarak dan mengirit waktu. Lebih dari itu, keberadaannya di emperan atau halaman rumah memberikan "nilai tambah" yang sedikit banyak mempertinggi gengsi sosial. Kepemilikan benda yang menyemburkan karbondioksida ke udara itu mendatangkan grandeur baru sesuai tuntutan modernitas. Tanpa motor, bakal merasa menjadi orang yang -- meminjam judul lagu dangdut tempo dulu -- termiskin di dunia.
Apa yang pernah dilontarkan oleh Adorno Habermas dkk dari Sekolah Frankfurt terhadap ekses modernisme Barat yang kapitalistis kini tak hanya melanda kota-kota besar, tetapi juga telah merambah ke kampungku. "Kodrat kedua" yang dilahirkan oleh sistem ekonomi politik pasar yang represif itu telah menjangkiti sebagian orang. Sudah demikian rancu untuk membedakan mana kebutuhan sejati dan mana kebutuhan semu. Antara yang sejati dan yang semu sangat sukar dibedakan. Antara yang primer dan sekunder pun tumpang tindih, dan sulit dipilah-pilah. Mutlak dibutuhkan atau tidak, bukan persoalan. Fungsional atau tidak, juga bukan urusan.
Pendapatan per kepala orang desa tak mesti besar agar motor bisa nongkrong di halaman. Tak punya uang kontan, kredit pun terhitung murah, cepat dan gampang. Tiap hari ada mobil sales keliling yang menyebarkan brosur dan menawarkan layanan instan. Tak perlu punya gaji bulanan, untuk bisa kredit. Yang disyaratkan cuma fotokopi KTP dan uang muka yang secara nominal terhitung tidak besar. Dengan beberapa ratus ribu rupiah, disertai janji untuk bersedia mengangsur tiap bulan, sebuah motor gres yang keren akan langsung diantarkan dan dikendarai ngulon-ngetan.
Kalau tak mau kredit, harta apa pun mungkin dikorbankan. Sepetak sawah atau tegalan bisa dijual atau digadaikan. Tak ada sawah atau tegalan, sapi pun jadi, demi anak yang merengek agar bisa melenggang gagah di jalan. Lebih enteng menjual sapi, tegalan atau sawah untuk pengadaan motor ketimbang biaya pendidikan anak. Ajaib? Bisa jadi.
Tidak ajaib jika aku merindukan Pohsarang yang lengang atau tenang. Seperti dulu, ketika jalan belum beraspal dan sekali-sekali terdengar denting korakan sapi, atau detuk telapak kaki kuda. Bayangkan, setelah puluhan tahun dibentak-bentak oleh aneka jeritan jalan raya antara Bandung-Jakarta, ketika mudik masih juga dihardik-hardik oleh keberisikan serupa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar