Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (11)

19 Desember 2011

Gusti Allah tidak adil! Ini rutukan rutin mendiang bapakku, ketika panen gagal atau hama menjarah tanaman di sawah. Bahkan, ketika sakit gigi atau bisul tumbuh di selangkangan. Rutukan favorit itu selalu diulang bagai litani, setiap kali merasa menderita atau kecewa.
Agaknya hobi menggugat Tuhan itu mirip kuman penyakit menular. Atau, mirip gen yang mewaris. Nyatanya, aku pun sempat gemar mengumpat. Bahkan, menghujat. Karena takut-takut, tidak secara eksplisit langsung kepada Tuhan. Kadang-kadang tanpa alamat. Tidak jarang pula, ditujukan kepada  nasib. Dalam hal ini, nasib buruk: kemiskinan! Ada masanya, aku begitu geram dan mendendami kemiskinan...
Ada satu gugatan yang dahulu sempat lama mendekam di otak kecilku: mengapa si Polan bisa lahir sebagai anak Pak Kades, si Dadap anak juragan kacang, dan si Waru anak blantik sapi? Sementara aku, apa alasan Tuhan -- kalau betul hubungan intim bapak dan simbok merupakan perpanjangan tangan Tuhan dalam kreasionisme --  kok harus lahir dari keluarga melarat, yang mesti bekerja mati-matian sekadar agar bisa tiap hari makan kenyang? Mengapa tidak lahir di tengah keluarga L atau K, misalnya? Sekadar karena faktor kebetulan dan ketidakberuntungan belaka? Ataukah, sesungguhnya merupakan bagian rencana Ilahi yang rahasia?
Ya, di Pohsarang, tanah kelahiranku, hanya ada dua keluarga kaya raya: L dan K. L orang nomor satu di desa. Konon sapi peliharaannya berjumlah ratusan. Belum termasuk kerbau. Dan, kambing. Sawahnya? Jika bukan ratusan, puluhan hektare. Bu L ke mana-mana selalu terlihat berkilat-kilat. Mirip etalase berjalan. Perhiasan emas bergelantungan di sekujur badan. 
Kecemburuan sosial tak terelakkan. Aku selalu mengiri terhadap keberuntungan anak-anak keluarga L. Campur sewot dan murka. Kakak-adik (setahuku sekitar lima anak) dari keluarga kaya itu terlihat hidup nyaman. Yang sudah berkeluarga juga ikut kaya. Dua anak laki-laki -- yang satu dua tahunan di atasku, yang satunya lagi sedikit di bawahku -- membuatku iri. Dandanannya yahud. Rambut kelimis, oleh pomade (minyak rambut) bermerek Mandom, yang biasa diiklankan oleh bintang Hollywood, Charles Bronson, di TVRI -- satu-satunya saluran televisi yang ada di zaman itu.Sandalnya mendut-mendut, bermerek Daimatu atau Daimaru yang sedang trendi di desa. Pekerjaannya lebih banyak petentang-petentengMbagusi  (jual tampang). Tetapi, dasar anak orang kaya. Gayanya bikin keki.Kemlelet dan kemlinti. Congkak. Tinggi hati. Dan, doyan bikin onar. Dengan salah satu, aku hampir beradu fisik di tempat ketoprakan.
Aku? Tak ada banyak waktu luang untuk berleha-leha. Sejak kecil, karena keadaan, mesti ikut bantu-bantu bekerja apa saja jika tak ingin kelaparan. Tiap hari mesti ke sawah atau tegalan. Tak ada modal untuk mbagusi, lantaran memang jauh dari modis atau fashionable. Rambutku gondrong awut-awutan. Berkacamata minus. Pakaian, praktis asal ada. Celana panjang, kaus atau baju sangat terbatas. Celana kolor, bisa sebulan sekali baru dicuci. Celana dalam? Dua atau tiga biji -- itu pun gripis-gripis karena benangnya menjulur-julur dan sangatburek (kusam) -- sudah terhitung mewah. 
Keluarga K tak kalah kaya. Ternak peliharaannya juga tersebar di mana-mana. Begitu pula sawahnya. Malah ada kelebihan lain: keluarga ini punya mesin penggilingan padi, punya diesel yang membuat sebagian lingkungan kampung terang benderang oleh cahaya listrik, punya truk dan sedan dan yang membuatku lebih bersimpati: secara berkala membiarkan siaran pesawat televisi hitam putihnya dinikmati oleh para tetangga.
Tidak ganjil, jika dua keluarga paling terpandang di Pohsarang itu menjadi kiblat orientasi kebanyakan warga yang rata-rata miskin. Umumnya cenderung suka menunduk-nunduk. Membungkuk-bungkuk. Sebagian, atas nama sesuap nasi, malah rela menghambakan diri. Ironisnya, diam-diam sekaligus menjadi objek gosip. Keduanya digunjingkan memelihara tuyul. Bocah gaib yang syahdan gundul itulah yang disebut-sebut menjadi debt collector yang mengumpulkan harta kekayaan mereka. Kukira, gosip ini tak lebih dari bentuk ungkapan kecemburuan sosial.
Zaman berubah dan aku menjadi urban. Perjalanan nasib memberiku rezeki dan berkah. Akhirnya,wolak-walike zaman (perubahan zaman yang terbolak-balik) mengajarkan, agar tidak perlu menggugat, apalagi mengumpati, apa yang digambarkan sebagai nasib ataupun takdir. Tak perlu mempersoalkan asal eksistensi. Tak perlu mempertanyakan apa maksud Tuhan, karena memutuskan dua pemuda congkak itu lahir dalam keluarga L yang kaya dan aku muncul dari keluarga buruh tani. Juga, tak perlu memperkarakan itu semata karena faktor kebetulan atau bagian skenario Allah yang kadangkala terasa kocak atau janggal.
Di kemudian hari, aku menemukan realitas tak terduga: semua anak keluarga L praktis gagal dan berantakan. Seiring berjalannya waktu, sawah dan sapi dan segalanya terus menipis dan akhirnya habis. Salah satu anak yang dahulu dikenal paling jagoan, sesudah jatuh bangun sebagai preman, akhirnya meninggal. Adiknya yang pernah kutantang tawur juga keleleran. Nasib keluarga K hampir serupa. Jangankan dibawa ke surga. Di dunia pun, setumpuk kekayaan yang dulu berlimpah itu ternyata gagal diawetkan.
Kenyataan itu seolah memberikan pencerahan. Alangkah pandirnya jika Tuhan dipersalahkan semata lantaran lahir via rahim kemiskinan. Seorang rekan yang hafal ayat-ayat suci di luar kepala mengatakan, kadang-kadang rencana Tuhan memang sukar dipahami. Tak jarang pula aneh. Atau, misterius. Tentu saja, dia betul. Juga tidak salah, jika rekan lain yang religius bilang, penderitaan pun perlu disyukuri. Jika tak tahu penderitaan, bagaimana bisa tahu kebahagiaan?
Ada alasan kuat bagiku untuk tak putusnya bersyukur. Dulu bolehlah tersiksa karena nasi tiwul. Kini, meski tidak kaya, apalagi kaya raya, setidaknya aku merasa cukup berbahagia karena berlimpah berkah dan anugerah. Setidaknya, punya istri (satu-satuanya) dan tiga anak. Setidaknya, berhasil menjadi tua -- lewat setengah abad dan tidak mati muda.
Dan, kalau mau, selain steak atau sushi, tetap bisa makan tiwul juga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar