Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (14)

23 Desember 2011

Benda eksotis itu disebut handphone. Bahasa lokalnya, telepon genggam. Orang-orang di kampungku, supaya gampang, lebih suka menyebutnya hape.
Alat komunikasi kontemporer yang canggih itu tampaknya begitu populis hingga berhasil merambah lembah dan mendaki puncak gunung. Populasinya begitu bengkak hingga menggapai pelosok-pelosok terpencil yang terselip di antara lereng-lereng Wilis. Rupanya ia sangat egaliter, tanpa secuil pun sentimen sosial. Pun tanpa diskriminasi seksual. Siapa saja bisa memilikinya. Dari presiden di istana sampai pemulung yang melata di jalan raya. Tak usah kaget, jika pengemis tua yang setia mangkal di perempatan jalan antara Antapani dan Kiaracondong Bandung getol memencet-mencet hape di sebelah tangan, sementara tangan yang lain sibuk ngatong untuk meminta recehan. Juga tak usah heran, jika tukang ngarit -- pencari rumput, di sawah atau tegalan yang berserak di perbukitan di seputar Pohsarang juga membawa-bawanya.
Di kampungku, hape juga bukan barang mewah lagi. Sekurangnya dalam 10 tahun terakhir, benda ajaib yang pertama kali didemonstrasikan oleh Dr. Martin Cooper dari Motorola pada 1973 denganhandset seberat 1 kilogram itu memang tidak elitis lagi. Harga handset-nya tidak selalu berbilang jutaan rupiah. Ada yang cuma ratusan ribu, dengan performance yang tak kalah keren dan nggaya. Dengan fitur dan fasilitas yang sama-sama memikat dan lengkap. Dengan nomor perdana dan pulsa prabayar yang harganya murah meriah, hape pun menjangkau segala lapisan masyarakat.
Padahal, sekitar 15 tahun silam, harga handset Ericsson (aku lupa tipenya) setara dengan sebulan gaji wartawan. Harga nomor perdana, pada 1995 untuk Kartu Halo punya Telkomsel, sebesar Rp1,2 juta dan ini hampir setengah gaji sebulan. Lagi pula, selama dua minggu hanya bisa dielus-elus atau dipandangi. Belum aktif. Sekarang, begitu dibeli, langsung kring. Saking murahnya, sampai-sampai banyak orang mampu berganti-ganti nomor. Sekali pakai, langsung buang...
Hanya orang yang kelewat udik yang tidak tahu kegunaan hape. Siapa pun yang hendak membelinya paham, barang itu merupakan alat komunikasi -- sebuah varian baru dari telepon rumah. Itulah fungsi utamanya. Belakangan, fungsi itu kian berkembang. Tidak hanya untuk telepon-teleponan. Canggihnya teknologi telah menyulapnya menjadi alat yang betul-betul multifungsional: bermain game, mendengarkan radio, menonton siaran televisi, menyetel musik, memotret, dan berinternetan. Internetan pun bisa macam-macam, dari kirim-kiriman email hinga facebook-an dan twitter-an.
Tentu saja, tidak setiap orang memanfaatkan segala fasilitas itu. Ada yang merasa tidak atau belum butuh. Ada yang memang gagu alias "gaptek" -- gagap teknologi. Tetapi minimal, fungsi utamanya sebagai alat komunikasi tidak sia-sia. Dengannya orang kampung menelepon teman, jauh atau dekat. Atau, SMS-SMS-an.
Pertanyaannya, seberapa urgen hape dibawa-bawa tukang ngarit ke sawah? Seberapa besar dan seberapa mendesak kebutuhan untuk saling berkomunikasi ketika tengah menyabit rumput untuk pakan ternak di rumah? Selama dua atau tiga jam mencari rumput, mungkin tak satu pun SMS atau panggilan telepon yang masuk. Benda itu hanya membisu di saku. Sesungguhnya, kalaupun ditinggalkan di rumah, tak ada masalah.
Artinya, kalau dibawa-bawa ke sawah juga, bukan karena penting untuk berkomunikasi dan tiap saat diperlukan untuk berhubungan dengan sesama. Benda itu dibawa, bukan karena kegunaannya. Ia dibawa ke mana-mana, bahkan sewaktu beol di kali, untuk gagah-gagahan. Ia tak bisa ditinggalkan begitu saja karena telah menjadi bagian dari gaya hidup. Ia telah menjadi simbol penting yang diperlukan untuk mempertunjukkan identitas diri. Seperti setumpuk kartu ATM dan kartu kredit yang perlu dipajang rapi di dompet dan begitu dibuka orang lain akan langsung melihat dan terbeliak takjub. Tak bisa tidak, hape memang telah menjadi lambang modernitas, di sebuah zaman yang hiruk pikuk ketika dunia tak lagi berjarak. 
Setelah hape mewabah ke mana-mana, ada pemandangan yang berubah. Jarang terlihat lagi mbak-mbak, mbok-mbok atau mbah-mbah yang berkerumun di emper rumah untuk petan. Saling mencari kutu. Sambil bergunjing, tentu. Kalaupun berkumpul, bukan semata untuk petan. Bukan panorama aneh jika di gardu ronda di pojok kebun simbokku beberapa perempuan, tua-muda, nongkrong untuk ngadem, sambil bertelepon-teleponan. Atau, ber-SMS-an.
Juga, setelah banyak orang punya hape, warung kopi adikku jadi lebih semarak. Bukan karena semakin banyak klien yang datang untuk menyeruput segelas teh atau kopi manis. Dan, berlama-lama nangkring untuk mengobrol tanpa juntrungan. Di sela kelakar dan obrolan, tak jarang hape tiba-tiba memekik. Dalam berbagai nada dan lagu. Dan, dengan volume yang disetel keras-keras, yang acap mengagetkan rekan yang duduk bersebelahan.
Bukan aneh pula jika ada saja orang yang tak cukup beretiket atau bertenggang rasa. Tanpa canggung, koleksi lagu di hape diputar. Kencang-kencang. Lagu campursari atau dangdut koplo -- sebutan orang di kampungku untuk genre dangdut yang di tempat lain dinamai dangdut pantura. Ia tak tahu, atau tak peduli, bahwa lagu itu bisa mengganggu telinga orang lain. Ia tak ngedong, bahwa dengan memutar lagu yang belum tentu disukai orang lain yang punya selera dan apresiasi musik berbeda, berarti tak bertenggang rasa. Bahwa, tanpa disadari ia telah menjadi fasis kecil-kecilan yang merampas hak orang lain yang tak mau mendengar musik yang tak disukainya. Dalam perspektif eksistensialisme, hanya karena menyetel lagu keras-keras ia telah merampas hak orang lain untuk tidak mendengarkan lagu itu. Berarti pula, ia sudah melakukan penindasan. Kezaliman.
Dengan kalimat berbeda, ia telah menjadi neraka bagi orang lain. Sekurang-kurangnya, bagiku...

Sketsa Kampungan (13)

21 Desember 2011

Siapa bilang desa identik dengan kesunyian, atau ketenangan? Sebaliknya, kampungku justru berisik.
Lihatlah. Hampir tiap menit kendaraan bermotor melintas di jalan. Sepeda motor. Mobil. Truk. Bus. Juga "ledok" --sebentuk mobil-mobilan yang mengangkut alat penggilingan gabah (selepan) yang disulap dari mesin diesel mobil rusak. Juga kendaraan sejenis yang membawa gergaji mesin untuk menebang kayu. Hilir-mudik. Nyaris tanpa henti. Gerung mesin alat transportasi modern yang rakus BBM itu tiap waktu menderu-deru. Ada yang suaranya memekik-mekik dan menghardik. Memekakkan telinga.
Sesungguhnya tidak aneh jika kini jauh dari tenang. Setelah gereja tua direhabilitasi dan gua Maria dikembangkan menjadi mimesis Gua Lourdes di Prancis, Pohsarang memang moncer sebagai salah satu objek wisata spiritual yang populer di lingkungan umat Kristiani. Tiap waktu ada saja wisatawan yang datang bertandang. Bukan saja berasal dari Kediri dan sekitarnya. Juga dari kota-kota jauh di luar Pulau Jawa. Sekali waktu malah rombongan dari daerah antah-berantah yang sukar ditemukan dalam peta. Untuk berbagai maksud dan tujuan. Entah berziarah dan berdoa. Entah sekadar berwisata. Dan, tidak semuanya Kristiani. Tidak sedikit yang ternyata non-Nasrani. 
Tak sulit untuk dibayangkan betapa gaduhnya jalan. Apalagi pada hari raya, termasuk Idul Fitri. Atau, musim liburan. Tiap saat jalan sempit yang tak cukup lempang untuk dua bus bersimpangan itu tak pernah lengang. Sekali tempo, ini yang aneh bin ajaib, bisa macet total. Padahal, beberapa dasawarsa silam, satu-satunya kendaraan bermotor yang rutin mondar-mandir hanyalah truk pengangkut kayu atau batu. Sekali-sekali sepeda, dokar atau cikar. Selebihnya, rombongan kambing, sapi, atau kerbau yang digiring bocah angon. Kini, riuh rendah. Bukan hanya mobil kelas menengah ke bawah. JugaMercy, BMW, Audi, Hummer sampai Jaguar. Aku yakin, sebagian besar tetanggaku tak pernah tahu harga mobil-mobil mewah itu. Juga tak pernah tahu, walaupun hidup dua kali sebuah Hummer atauJaguar belum tentu terbeli.
Tanpa kendaraan kaum turis itu bukan berarti sepi. Kaum tetanggaku sekampung bukannya tak punya sepeda motor (selanjutnya sebut saja motor). Bahkan, sebagian sudah ber-"montor". Ya, "montor". Jangan rancukan dengan motor. Menurut pemahaman orang di kampungku, kata "montor" dipergunakan untuk menyebut kendaraan beroda empat, dari mobil (sedan, pick up, jip, dll) hingga truk.
Kalau disensus, hampir setiap rumah punya motor. Malahan, ada yang lebih dari satu biji. Mungkin saking pentingnya alat transportasi yang didominasi oleh produk Jepang itu sehingga ayah, ibu dan anak punya motor sendiri-sendiri. Sang ayah butuh, agar lebih efisien sekaligus bergaya jika hendak ke sawah. Anak perlu, untuk pergi ke sekolah. Dan, sang ibu juga membutuhkannya untuk belanja ke pasar atau warung sebelah. Paling tidak, untuk war-wer sana-sini -- penting tak penting, perlu tak perlu.
Tampaknya, motor begitu penting dan perlu, meskipun untuk tujuan yang penting tak penting dan perlu tak perlu. Bukan semata lantaran fungsinya sebagai alat transportasi yang jelas memperpendek jarak dan mengirit waktu. Lebih dari itu, keberadaannya di emperan atau halaman rumah memberikan "nilai tambah" yang sedikit banyak mempertinggi gengsi sosial. Kepemilikan benda yang menyemburkan karbondioksida ke udara itu mendatangkan grandeur baru sesuai tuntutan modernitas. Tanpa motor, bakal merasa menjadi orang yang -- meminjam judul lagu dangdut tempo dulu -- termiskin di dunia.
Apa yang pernah dilontarkan oleh Adorno Habermas dkk dari Sekolah Frankfurt terhadap ekses modernisme Barat yang kapitalistis kini tak hanya melanda kota-kota besar, tetapi juga telah merambah ke kampungku. "Kodrat kedua" yang dilahirkan oleh sistem ekonomi politik pasar yang represif itu telah menjangkiti sebagian orang. Sudah demikian rancu untuk membedakan mana kebutuhan sejati dan mana kebutuhan semu. Antara yang sejati dan yang semu sangat sukar dibedakan. Antara yang primer dan sekunder pun tumpang tindih, dan sulit dipilah-pilah. Mutlak dibutuhkan atau tidak, bukan persoalan. Fungsional atau tidak, juga bukan urusan.
Pendapatan per kepala orang desa tak mesti besar agar motor bisa nongkrong di halaman. Tak punya uang kontan, kredit pun terhitung murah, cepat dan gampang. Tiap hari ada mobil sales keliling yang menyebarkan brosur dan menawarkan layanan instan. Tak perlu punya gaji bulanan, untuk bisa kredit. Yang disyaratkan cuma fotokopi KTP dan uang muka yang secara nominal terhitung tidak besar. Dengan beberapa ratus ribu rupiah, disertai janji untuk bersedia mengangsur tiap bulan, sebuah motor gres yang keren akan langsung diantarkan dan dikendarai ngulon-ngetan.
Kalau tak mau kredit, harta apa pun mungkin dikorbankan. Sepetak sawah atau tegalan bisa dijual atau digadaikan. Tak ada sawah atau tegalan, sapi pun jadi, demi anak yang merengek agar bisa melenggang gagah di jalan. Lebih enteng menjual sapi, tegalan atau sawah untuk pengadaan motor ketimbang biaya pendidikan anak. Ajaib? Bisa jadi.
Tidak ajaib jika aku merindukan Pohsarang yang lengang atau tenang. Seperti dulu, ketika jalan belum beraspal dan sekali-sekali terdengar denting korakan sapi, atau detuk telapak kaki kuda. Bayangkan, setelah puluhan tahun dibentak-bentak oleh aneka jeritan jalan raya antara Bandung-Jakarta, ketika mudik masih juga dihardik-hardik oleh keberisikan serupa...

Sketsa Kampungan (12)

20 Desember 2011

Apa yang tersirat dari balik hot pant, tank top dan rambut pirang?
Sudah barang tentu, di mana-mana orang bakal ngedong apa yang  tersurat dari balik tank top danhot pant. Begitu pula di kampungku. Yang mungkin sedikit membedakan, ditambah dengan rambut yang dicat merah, kuning, atau pirang, ragam pakaian perempuan itu ternyata menyiratkan sesuatu sehingga catatan kecil ini perlu dibuat. Hot pant, tank top dan rambut pirang yang simpang siur di Pohsarang membuatku gelisah. Bukan karena diam-diam menelan air liur. Bukan! Justru, maaf! -- membuatku tak tahan untuk tidak menjulurkan lidah!
Tak ada yang bilang, orang kampung tak boleh modis atau trendi. Fashion bukan monopoli orang kota, yang relatif tentu lebih melek mode, dan lebih well informed terhadap berbagai bentuk gaya hidup mutakhir yang tengah -- meminjam istilah di dunia sepak bola -- onfire. Juga, lebih berkemampuan untuk buru-buru mengikuti perubahan gaya hidup dan trend  mode, lantaran punya uang.
Meski senantiasa terlambat dalam mengikuti arus fashion yang sedang in, toh sebagian penduduk kampung merasa perlu tampil trendi dan seksi. Setidaknya, meniru-niru penampilan para pesohor yang biasa berseliweran di kotak ajaib yang disebut televisi.
Dahulu pun aku begitu, meskipun tidak seratus persen sadar tengah meniru-niru gaya berdandan orang-orang gedongan di perkotaan. Tanpa sengaja, aku pun berlagak trendi meski pekerjaan sehari-hari berkubang lumpur di kedokan sawah atau tegalan. Tiba-tiba saja rambutku kubiarkan gondrong. Celanaku cutbrai -- yang bagian bawahnya lebar dan jika dipakai berjalan melambai-lambai menyapu tanah. Sepatu berhak tebal dan tinggi. Jika dipakai berjalan, bunyinya bikin telinga pekak. Jika kena lemparan, maling ditanggung langsung pingsan.
Kelak kuketahui, rambut gondrong itu merupakan salah satu simbol pemberontakan generasi muda era itu -- konon bernama flower generation (generasi bunga) yang antiperang, antikemapanan dan antimodernisasi yang dianggap telah menimbulkan kegersangan spiritual. Sebuah generasi yang selain merindukan kebebasan, juga mendambakan koeksistensi yang harmonis dengan alam lingkungan. Menurut catatan sejarah kebudayaan, pada waktu yang hampir bersamaan lahir pula gerakan nudisme (seingatku pada kurun 70-an, bule-bule yang telanjang bulat sempat berkeliaran di Pantai Kuta) dan feminisme yang hendak membebaskan dada dari kutang.
Rambut gondrong sempat dianggap semprul dan tidak cocok untuk kepribadian bangsa, seiring dengan kebijakan politik Bung Karno yang sedang menalak Barat. Di Kediri pun polisi tak hanya melakukan razia untuk peneng sepeda, tetapi juga rambut kepala anak muda. Yang gondrong kena tilang. Caranya? Rambut dibabat semau-maunya sehingga si pemilik kepala terpaksa buru-buru ke tukang cukur untuk merapikannya. Kalau ingatanku belum lapuk, belakangan muncul tilang jenis lain. Celana panjang model ketat (umumnya dari bahan korduroi) yang tengah mewabah juga dianggap berhala. Mode ini pun kena razia. Kalau botol kecap tak masuk, polisi pun cekatan membelahnya.
Hingga kini, orang-orang di kampungku tetap berjuang mati-matian agar tidak out of date. Tak mau dikategorikan katro atau ndesit. Trend mode yang hilir mudik di televisi dipelototi. Makhluk-makhluk necis dan wangi dari berbagai kota besar yang berwisata ke gereja dan Gua Maria sembunyi-sembunyi dipendeliki. Banyak orang ingin tampil fashionable. Syukur-syukur, tidak hanya trendi. Kalau mungkin, seksi.
Bisa jadi, agar trendi atau seksi itulah, belakangan hot pant, tank top, dan rambut pirang digandrungi.
Lihatlah motor yang tiada hentinya ngetan-ngulon. Dari pagi, siang, hingga malam, para remaja dan ibu rumah tangga hilir mudik di atas kuda Jepang, dengan ber-tank top dan ber-hot pant. Jangan bayangkan dada dan pinggang serbaindah atau serbaramping. Jangan bayangkan pula paha dan betis serbamulus atau serbalangsing. Pinggang dan dada yang mencang-mencong formatnya bisa ber-tank top. Paha dan betis hitam kusam dan penuh "luka perang" pun bisa ber-hot pant.
Apa pun bentuk dan kondisi badan, yang penting hot pant dan tank top dikenakan. Serasi tidaknya urusan belakangan. Bakal sedap dipandang atau tidak, tak perlu dirisaukan. Bahwa, di mata orang bakal tampak konyol, atau bahkan menjijikkan, tak pernah diperhitungkan. Bahwa, yang terhidangkan terlihat pating pecotot, tak pernah diperkirakan. Mungkin saja, memang tak sempat dipertimbangkan, berkat cupetnya nalar dan dangkalnya wawasan. Sekurang-kurangnya, tak punya cermin untuk berkaca. Kalaupun berkaca, mata tak cukup awas untuk mampu melihat badut buruk yang berdiri di hadapannya.
Juga bukan soal, jika hot pant dan tank top yang penuh gaya itu hanya produk abal-abal dengan kualitas murahan, yang banyak bergelantungan di toko pakaian dan pasar tradisional. Prinsipnya: tampil trendi, seperti artis di televisi.
Tank top dan hot pant belum lengkap. Rambut boleh dan bisa dicat. Bisa kuning. Bisa merah. Bisa pirang. Seperti bule. Kalau perlu di-highlight warna-warni, biar seperti pelangi. Kini sempurnalah sudah: bawahan hot pant, atasan tank top, dan rambut yang biasa dilukiskan sebagai mahkota wanita itu bercat kuning, merah atau pirang. Tidak pagi, siang atau malam, tinggal melenggang -- yang tragisnya -- ke "wilayah abu-abu" atau "daerah remang-remang".
Di kota besar, cewek-cewek dengan dandanan kontemporer seperti itu bergelimpangan di mana-mana, dari mal megah sampai gang kumuh yang rumah-rumahnya saling bertindihan. Tak terlihat aneh atau janggal. Tetapi, khusus untuk kasus Pohsarang dan sejumlah desa tetangga di sekitarnya, ada yang sedikit menghebohkan pikiran. Jika dicermati, yang ber-hot pant, ber-tank top dan berambut kuning, merah, pirang, atau highlight warna-warni  umumnya punya status "istimewa": (1) lulusan TKI di luar negeri; dan (2) purel atau gadis/perempuan (yang pernah) nakal.
Pengalaman bekerja sebagai TKW (rata-rata pembantu rumah tangga) di Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan (ketiganya terhitung tujuan  terfavorit) ternyata mengakibatkan perubahan yang signifikan. Tidak hanya pada orientasi dan gaya hidup. Yang mengerikan, jangan-jangan juga berdampak buruk pada dimensi moral dan tingkah laku. Begitu pulang ke kampung, bukan saja tersulap jadi wanita penuh gaya dengan dandanan trendi ala luar negeri. Tetapi, juga menjelma jadi pribadi yang retak. Bukan cerita baru jika sebuah rumah tangga malah jadi bubrah dan berakhir dengan perceraian begitu istri bekerja di luar negeri. Yang masih lajang, survei kecil-kecilan menunjukkan, pun mengalami keguncangan moral. Salah satunya, gampang menyempal dari paugeran normatif dengan pola seks yang longgar.
Dan, entah mengapa, perempuan muda yang bekerja sebagai purel atau perempuan yang (pernah) bengal (dalam pengertian negatif: permisif dalam seks) umumnya juga gemar ber-hot pant, ber-tank top dan berambut merah atau pirang.
Purel? Mungkin Anda bingung. Ini kosakata baru. Kata itu identik dengan gadis pemandu berkaraoke di tempat-tempat karaoke yang menjamur di Kediri. Purel rata-rata masih muda atau belia. Rata-rata juga punya latar kehidupan pribadi yang bermasalah. Sumber informasi yang layak dipercaya malah menegaskan, purel umumnya sekaligus punya profesi sampingan: biasa dibawa kencan oleh para hidung belang!
Ah, mudah-mudahan semua itu salah dan hanya produk stigmatisasi sosial...

Sketsa Kampungan (11)

19 Desember 2011

Gusti Allah tidak adil! Ini rutukan rutin mendiang bapakku, ketika panen gagal atau hama menjarah tanaman di sawah. Bahkan, ketika sakit gigi atau bisul tumbuh di selangkangan. Rutukan favorit itu selalu diulang bagai litani, setiap kali merasa menderita atau kecewa.
Agaknya hobi menggugat Tuhan itu mirip kuman penyakit menular. Atau, mirip gen yang mewaris. Nyatanya, aku pun sempat gemar mengumpat. Bahkan, menghujat. Karena takut-takut, tidak secara eksplisit langsung kepada Tuhan. Kadang-kadang tanpa alamat. Tidak jarang pula, ditujukan kepada  nasib. Dalam hal ini, nasib buruk: kemiskinan! Ada masanya, aku begitu geram dan mendendami kemiskinan...
Ada satu gugatan yang dahulu sempat lama mendekam di otak kecilku: mengapa si Polan bisa lahir sebagai anak Pak Kades, si Dadap anak juragan kacang, dan si Waru anak blantik sapi? Sementara aku, apa alasan Tuhan -- kalau betul hubungan intim bapak dan simbok merupakan perpanjangan tangan Tuhan dalam kreasionisme --  kok harus lahir dari keluarga melarat, yang mesti bekerja mati-matian sekadar agar bisa tiap hari makan kenyang? Mengapa tidak lahir di tengah keluarga L atau K, misalnya? Sekadar karena faktor kebetulan dan ketidakberuntungan belaka? Ataukah, sesungguhnya merupakan bagian rencana Ilahi yang rahasia?
Ya, di Pohsarang, tanah kelahiranku, hanya ada dua keluarga kaya raya: L dan K. L orang nomor satu di desa. Konon sapi peliharaannya berjumlah ratusan. Belum termasuk kerbau. Dan, kambing. Sawahnya? Jika bukan ratusan, puluhan hektare. Bu L ke mana-mana selalu terlihat berkilat-kilat. Mirip etalase berjalan. Perhiasan emas bergelantungan di sekujur badan. 
Kecemburuan sosial tak terelakkan. Aku selalu mengiri terhadap keberuntungan anak-anak keluarga L. Campur sewot dan murka. Kakak-adik (setahuku sekitar lima anak) dari keluarga kaya itu terlihat hidup nyaman. Yang sudah berkeluarga juga ikut kaya. Dua anak laki-laki -- yang satu dua tahunan di atasku, yang satunya lagi sedikit di bawahku -- membuatku iri. Dandanannya yahud. Rambut kelimis, oleh pomade (minyak rambut) bermerek Mandom, yang biasa diiklankan oleh bintang Hollywood, Charles Bronson, di TVRI -- satu-satunya saluran televisi yang ada di zaman itu.Sandalnya mendut-mendut, bermerek Daimatu atau Daimaru yang sedang trendi di desa. Pekerjaannya lebih banyak petentang-petentengMbagusi  (jual tampang). Tetapi, dasar anak orang kaya. Gayanya bikin keki.Kemlelet dan kemlinti. Congkak. Tinggi hati. Dan, doyan bikin onar. Dengan salah satu, aku hampir beradu fisik di tempat ketoprakan.
Aku? Tak ada banyak waktu luang untuk berleha-leha. Sejak kecil, karena keadaan, mesti ikut bantu-bantu bekerja apa saja jika tak ingin kelaparan. Tiap hari mesti ke sawah atau tegalan. Tak ada modal untuk mbagusi, lantaran memang jauh dari modis atau fashionable. Rambutku gondrong awut-awutan. Berkacamata minus. Pakaian, praktis asal ada. Celana panjang, kaus atau baju sangat terbatas. Celana kolor, bisa sebulan sekali baru dicuci. Celana dalam? Dua atau tiga biji -- itu pun gripis-gripis karena benangnya menjulur-julur dan sangatburek (kusam) -- sudah terhitung mewah. 
Keluarga K tak kalah kaya. Ternak peliharaannya juga tersebar di mana-mana. Begitu pula sawahnya. Malah ada kelebihan lain: keluarga ini punya mesin penggilingan padi, punya diesel yang membuat sebagian lingkungan kampung terang benderang oleh cahaya listrik, punya truk dan sedan dan yang membuatku lebih bersimpati: secara berkala membiarkan siaran pesawat televisi hitam putihnya dinikmati oleh para tetangga.
Tidak ganjil, jika dua keluarga paling terpandang di Pohsarang itu menjadi kiblat orientasi kebanyakan warga yang rata-rata miskin. Umumnya cenderung suka menunduk-nunduk. Membungkuk-bungkuk. Sebagian, atas nama sesuap nasi, malah rela menghambakan diri. Ironisnya, diam-diam sekaligus menjadi objek gosip. Keduanya digunjingkan memelihara tuyul. Bocah gaib yang syahdan gundul itulah yang disebut-sebut menjadi debt collector yang mengumpulkan harta kekayaan mereka. Kukira, gosip ini tak lebih dari bentuk ungkapan kecemburuan sosial.
Zaman berubah dan aku menjadi urban. Perjalanan nasib memberiku rezeki dan berkah. Akhirnya,wolak-walike zaman (perubahan zaman yang terbolak-balik) mengajarkan, agar tidak perlu menggugat, apalagi mengumpati, apa yang digambarkan sebagai nasib ataupun takdir. Tak perlu mempersoalkan asal eksistensi. Tak perlu mempertanyakan apa maksud Tuhan, karena memutuskan dua pemuda congkak itu lahir dalam keluarga L yang kaya dan aku muncul dari keluarga buruh tani. Juga, tak perlu memperkarakan itu semata karena faktor kebetulan atau bagian skenario Allah yang kadangkala terasa kocak atau janggal.
Di kemudian hari, aku menemukan realitas tak terduga: semua anak keluarga L praktis gagal dan berantakan. Seiring berjalannya waktu, sawah dan sapi dan segalanya terus menipis dan akhirnya habis. Salah satu anak yang dahulu dikenal paling jagoan, sesudah jatuh bangun sebagai preman, akhirnya meninggal. Adiknya yang pernah kutantang tawur juga keleleran. Nasib keluarga K hampir serupa. Jangankan dibawa ke surga. Di dunia pun, setumpuk kekayaan yang dulu berlimpah itu ternyata gagal diawetkan.
Kenyataan itu seolah memberikan pencerahan. Alangkah pandirnya jika Tuhan dipersalahkan semata lantaran lahir via rahim kemiskinan. Seorang rekan yang hafal ayat-ayat suci di luar kepala mengatakan, kadang-kadang rencana Tuhan memang sukar dipahami. Tak jarang pula aneh. Atau, misterius. Tentu saja, dia betul. Juga tidak salah, jika rekan lain yang religius bilang, penderitaan pun perlu disyukuri. Jika tak tahu penderitaan, bagaimana bisa tahu kebahagiaan?
Ada alasan kuat bagiku untuk tak putusnya bersyukur. Dulu bolehlah tersiksa karena nasi tiwul. Kini, meski tidak kaya, apalagi kaya raya, setidaknya aku merasa cukup berbahagia karena berlimpah berkah dan anugerah. Setidaknya, punya istri (satu-satuanya) dan tiga anak. Setidaknya, berhasil menjadi tua -- lewat setengah abad dan tidak mati muda.
Dan, kalau mau, selain steak atau sushi, tetap bisa makan tiwul juga...

Sketsa Kampungan (10)

17 Desember 2011

Kelaparan membuat mulut jadi clutak... Paling tidak, mulut kecilku.
Yang dimaksud clutak, bukan sekadar rakus. Clutak namanya, jika mulut ingin mengunyah banyak-banyak. Karena tidak ada stok makanan, maka apa pun yang tidak biasa dikonsumsi dan belum tentu enak, tetap ditelan lantaran rasa lapar yang tak hentinya mendesak-desak.
Bayangkan sebuah zaman serbasusah (malaise, istilah kerennya), di masa Bung Karno, ketika perekonomian nasional ambruk dan kondisi politik tak hentinya bergolak yang kemudian memuncak pada September 1965 yang dalam bahasa rezim Soeharto disebut G-30-S PKI. Sebuah huru-hara besar yang membunuh ratusan ribu anak bangsa. Serbakisruh. Rupiah sempat mengalami sanering, dari Rp1000 menjadi Rp1. Tingkat inflasi yang besarnya  27% pada 1961 naik menjadi 174% pada 1962 dan pada 1965 melambung tinggi, 600%. Kebanyakan orang desa tak tahu lagi gambar yang tertera di uang kertas atau logam. Kemiskinan nyaris merata. Kelaparan mewabah di mana-mana. Sempat ada bantuan "sembako" dari Amerika: bulgur, havermut, susu bubuk (prongkolan), jagung, minyak goreng, dan entah apa lagi, bagi penduduk pedesaan yang 100 persen bisa dikategorikan melarat. Aku ingat, beberapa kali sempat ikut mengantre bersama simbokku. Tetapi, begitu Bung Karno mengobarkan antiimperialisme dan kolonialisme Barat, sumbangan pangan itu dihentikan.
Bayangkan kesengsaraan rakyat. Benar-benar kesrakat. Juga keluargaku. Ayahku belum menjadi petani, karena tidak punya sawah. Untuk sekadar makan pun susahnya minta ampun. Jangan tanyakan soal kelayakan, apalagi kenikmatan, menu. Jangan persoalkan pula perkara gizi atau nutrisi. Ada yang asal bisa dikunyah dan ditelan pun sudah berkah. Bisa rutin makan nasi tiwul (baca Sketsa Kampungan 4) atau jagung terhitung beruntung. Keluarga lain mungkin hanya mampu menyantap sekerat dua kerat singkong bakar, yang dicabut dari kebun tetangga. Atau, sekadar melahap jangan(sayur) dari tanaman krokot atau daun telan (tumbuhan liar yang daunnya kecil-kecil mirip daun ubi rambat), asal perut berisi dan tidak kelewat keroncongan.
Agar bisa tetap makan, ayahku harus merambah hutan lebat di lereng-lereng Wilis. Sekali waktu mencari rotan. Lain waktu mencari bambu petung untuk dijadikan talang. Atau, membuat arang. Pernah aku diajak ke hutan dan menginap dua malam. Sekali untuk mencari rotan. Kedua kali untuk membuat arang. Untuk tidurku, ayah membuat "kemah" beratapkan daun-daunan. Berbekal tiwul yang hampir garing. Lauknya? Ular ditangkap dan dibakar.
Rotan, talang atau arang itu lalu dijual ke kota, Kediri. Pulangnya, gaplek atau jagung dibawa. Apa yang dengan susah payah dibeli ayah itulah yang oleh simbok diolah. Untuk santapan hari itu. Untuk menyuapi mulutku yang maunya tak henti memamah. Untuk mengisi bermeter-meter usus yang senantiasa rakus. Itu belum termasuk mulut dan perut dua adikku.
Seperti kebanyakan anak-anak lain yang sama rudinnya dan sama pula clutak-nya, nasi tiwul atau jagung di rumah tak cukup "memuaskan" perutku yang buncit karena cacingan. Sambil ngarit (menyabit rumput untuk pakan ternak peliharaan), apa saja yang kira-kira bisa dikunyah diembat. Kenakalan, berupa pencurian terhadap tanaman orang lain, menjadi hal lumrah. Singkong, ubi rambat, ubi jalar, talas, ganyong, garut, entik, mangga, duwet, kacang, dan aneka tanaman palawija lain di sawah atau tegalan setan mana pun bisa menjadi sasaran kenakalan. Tak jarang, kacang panjang, kacang tunggak muda, terong, terikan (sisa ubi rambat yang tumbuh lagi) dan macam-macam tanaman mentah dilahap pula. Tak soal juga andaikan masih berlepotan tanah.
Saking clutak-nya, karena siksaan rasa lapar, tiga sampai lima ekor jangkrik disunduki mirip satai, kemudian dibakar. Begitu pula belalang kayu yang bernasib malang. Tak peduli cuma seekor atau dua ekor, langsung dipanggang. Tak jarang, yuyu (kepiting) yang berkeliaran di sawah atau sungai, dibakar dan digerogoti untuk menyumpal perut yang tak hentinya "bernyanyi-nyanyi".
Konyolnya, sekaligus tololnya, umbi-umbian beracun pun diganyang. Aku pernah muntah-muntah karena ngotot melahap gadung bakar, yang jelas-jelas tidak enak dan tak lazim langsung dimakan (perlu diolah secara khusus untuk membuang racun yang dikandungnya). Pernah pula mabuk berat dan muntah-muntah, karena kebanyakan telur. Ceritanya, sehabis sakit aku mengidam telur rebus -- yang setahun sekali belum tentu bisa kunikmati. Kakek punya banyak ayam dan ada yang sedang bertelur. Meski merengek-rengek, kakek tak hendak merelakan telur ayamnya untuk menjadi calonfaeces di ususku. Aku marah besar. Suatu kali, belasan telur satu sarang kucuri dan kurebus di tegalan. Sumber gizi curian itulah yang kemudian membuat kepalaku pusing 70 keliling dan perutku mulas-mulas seperti habis ditanduk kerbau gemuk.
Lantaran begitu sulitnya untuk bisa tetap makan dan tidak kelaparan, sejak dini ayah selalu mengajarkan agar tidak membuang-buang nasi. Ayah pasti marah jika di piring seng makanku nasi tersisa. Hukumnya, piring harus selicin dan semulus marmer buatan Tulungagung. Sebutir upa pun haram disia-siakan. Harus dipungut, dan dikirim ke dalam perut.
Untuk waktu yang lama aku nyaris sepenuhnya patuh terhadap ajaran ayah. Seluruh isi piring otomatis ludes dan tandas. Di kemudian hari, ternyata tak mudah lagi untuk menghormati dan menghargai rezeki. Agaknya, aku telah terjangkit penyakit sok kaya dengan membuang-buang makanan, termasuk nasi!

Sketsa Kampungan (9)

16 Desember 2011

Pocong, kuntilanak, wewe gombel, jin, glundung plecek, wedon, banaspati, genderuwo, sundel bolong dan sekian jenis hantu lain yang jelek ataupun cantik, jahat ataupun baik: di mana tempatmu di dunia?
Ya, fenomena berbagai makhluk gaib itu dikenal di kebudayaan mana pun, mungkin dengan nama berbeda dan deskripsi bentuk visual serta karakteristik yang tidak sama pula. Di mana-mana ada cerita hantu. Bukan hanya di Indonesia. Bahkan, di segala selempitan dunia. Di Amerika Serikat yang masyarakatnya sudah demikian rasional dan maju tetap saja mengenal gejala mistis ini dan sejumlah tempat dikatakan angker pula. Malahan, Gedung Putih disebut-sebut berhantu. Beberapa mantan presiden negeri adikuasa itu dikatakan acap muncul di Gedung Putih sebagai hantu. Sejumlah artis terkenal, dari Marilyn Monroe, Elvis Presley hingga Michael Jackson, juga bergentayangan sebagai hantu. 
Masa kecilku juga dipenuhi oleh berbagai penampakan hantu...
Bisa jadi, hantu lebih nyaman bermukim di desa ketimbang di kota. Di desa, banyak tempat dikatakan berhantu. Banyak orang mengaku mengalami penampakan hantu. Aneka cerita hantu jadi menu obrolan ibu-ibu yang petan (cari kutu), yang mungkin lebih seru ketimbang pergunjingan gosip artis di zaman sekarang.
Sudah barang tentu, di pedesaan atmosfer mistis jelas lebih terasa dan mengemuka. Masyarakat rural yang mayoritas anggotanya paling tinggi tamatan sekolah rakyat atau sekolah dasar, memang penuh mitos dan takhayul. Semar, yang jelas-jelas hanya tokoh fiktif dalam dunia pewayangan yang diadopsi dari epos Mahabharata dan diimpor dari India, diyakini sebagai figur riil yang "mengelola" tanah Jawa. Di sebuah sudut ranah Kediri (Jawa Timur), ada sebuah petilasan dengan patung buruk yang diyakini pernah disinggahi oleh Hanoman, juga tokoh wayang, salah satu protagonis dalam epos Ramayana -- yang juga diimpor dari India. Meletusnya Gunung Kelud selalu diidentifikasi sebagai wujud kemurkaan sebentuk monster -- bisa naga, bisa raksasa -- yang bersemayam di perut bumi. Boleh percaya boleh tidak, mantra dan semburan air ludah bacin dukun jelek lebih dipercaya khasiatnya ketimbang obat atau jarum suntik dokter, untuk si anak tersayang yang mencret atau demam. 
Dalam tatanan sosial dengan aneka klenik dan takhayul yang tumbuh subur itu, eksistensi aneka makhluk gaib mendapat tempat istimewa. Dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit perkara nyata dihubung-hubungkan dengan fenomena gaib. Trance atau kerasukan, misalnya, adalah merasuknya roh, atau arwah, atau setan usil, ke dalam tubuh seseorang. Tak bisa tidak. Penjelasan psikologis tak bisa diterima. Kegilaan seseorang ada korelasinya dengan perkara gaib. Hilangnya seorang anak di rembang petang selalu dihubungkan dengan kejahilan sesosok gaib: genderuwo atau wewe gombel. Kalau seorang anak rewel dan tak juga tidur, simbok selalu menakut-nakuti, "Cepatlah bobok, Nak. Kalau tidak, nanti diculik Buto Ijo!"       
Apalagi, pada era 60-an dan 70-an, fenomena mistis dan supranatural itu masih kental. Lingkungan alam ikut menunjang. Pada kurun-kurun itu, kampung masih gulita. Gelap di mana-mana. Maklum, listrik belum ada. Tiap rumah hanya diterangi oleh lampu ublik, teplok atau cempor. Ke mana-mana, termasuk ke kali jika kebelet untuk buang hajat (sungai menjadi MCK terpanjang di dunia!), mesti bawa oncor (obor) jika tak ingin diganggu hantu. Atau, tersandung batu dan jatuh terjengkang. Senter masih jadi barang mewah dan langka.
Karena jumlah penduduk masih sedikit, suasana sehari-hari -- apalagi di waktu malam, terasa lengang. Ada banyak ruang kosong yang terkesan longgar. Jarak antarrumah tidak berimpitan seperti sekarang. Tak sedikit rumah berhalaman luas. Ada banyak kebun kosong. Ada bulak panjang. Di mana-mana masih rungkut oleh semak dan pohon-pohonan. Di berbagai sudut, ada batu dan atau pohon raksasa. Dan, ada sekian batu atau pohon yang dipercaya "berhuni" sebagai tempat mukim suatu makhluk gaib. Setahuku, pada masa itu, setiap kampung punya danyang (sang bahureksa area itu) masing-masing yang dipercaya bermukim di suatu tempat wingit tertentu. Dan, batu, pohon atau tempat (bisa saja berupa sepetak tebing cadas di tepi kali) semacam itu senantiasa dikeramatkan. Banyak warga rutin mengiriminya kembang dan membakar kemenyan. Sisa-sisa animisme dan dinamisme itu tetap terlestarikan -- mungkin di banyak tempat hingga sekarang.
Pada wayah sepi uwong  -- ketika orang-orang dewasa telah menyelarak pintu rumah untuk tidur, dunia sekitar menjadi sepi. Yang gampang tertangkap telinga hanya derik jangkrik, jeritan burung bence, dengkung kodok, teriakan tonggeret... Ada juga suara radio. Jika bukan irama Melayu (waktu itu sebutan dangdut belum begitu dikenal), ya uyon-uyon Jawa. Diseling tangisan bayi, yang rewel. Mungkin karena lapar dan gagal menemukan tetek kempis ibunya yang terlelap karena kecapaian kerja. Suara televisi? Seingatku, sampai awal kurun 70-an, di kampungku hanya satu keluarga kaya yang punya pesawat televisi hitam putih. Itu pun hanya disetel (dengan aki) untuk waktu yang terbatas. Selebihnya, sunyi bersipongang...
Ya senyap, ya gelap...
Berkali-kali, aku merasa melihat atau mendengar "sesuatu". Yang ganjil atau tak masuk akal. Pernah, sepulang nonton wayang, nyaris ditubruk seekor kuda yang melintas jalan. Di sisi kanan jalan, adalah kebun kosong yang sebelumnya pernah jadi instal kuda. Sisi kiri, adalah tebing tinggi ke sungai. Artinya, kuda itu berlari ke arah tebing dan terjun ke kali. Sempat kudengar bunyi tapak kuda itu. Sempat kudengar pula, gemeretak pagar bambu yang berpatahan karena dilanggar. Secara visual, mataku hanya menangkap sekelebat bayangan hitam. Aku pun kontan jatuh terduduk. Dan, mengompol di celana. Esok harinya, kutemukan, pagar bambu itu masih utuh. Tak satu pun bilahnya yang patah.
Di belakang rumah, kebun rimbun oleh aneka pohon dan rumpun bambu (ori). Kalau hendak ke sungai, mesti melewati jalan setapak di bawah salah satu rumpun bambu berduri itu. Pernah, suatu malam hendak pergi ke sawah. Bersama tiga teman. Dan... dari lengkungan carang (ranting yang berduri dan berdaun) bambu itu mendadak air mengucur. Seperti pancuran kecil. Bunyinya jelas terdengar bergemericik. Seperti bunyi kencing kerbau atau sapi. Yang mengherankan, saat itu musim kemarau. Jelas bukan hujan. Dan, aku merasa guyuran air itu menimpa kepala. Anehnya, sama sekali tidak basah. Kami langsung sadar (merasa?), makhluk halus -- mungkin genderuwo bengal -- sedang bermain-main. Kencing sembarangan.
Kali lain, kudengar tangisan bayi, kudengar orang yang ciblon (memukul-mukul permukaan air untuk membuat suara dengan musikalitas tertentu) di selokan yang aliran airnya tak lebih besar dari kencing monyet, kulihat sosok tentara berbambu runcing di pematang sawah (di sekitar lokasi memang ada satu kuburan gerilyawan tak dikenal yang syahdan gugur oleh tentara Jepang), kulihat sosok hitam yang membuat pucuk batang bambu naik-turun seperti ayun-ayunan, dan aneka penampakan yang "kutangkap" secara berbeda-beda. Sekali waktu berupa suara. Waktu lain berbentuk bayangan.
Takut? Pada momen itu, jelas takut. Bulu kuduk juga meremang. Toh, tak pernah kapok. Aku selalu doyan keluyuran malam.
Di kemudian hari, setelah dewasa, peristiwa yang bisa diasumsikan sebagai penampakan makhluk gaib itu justru tak pernah lagi kualami. Selama menjadi wartawan di Jakarta umpamanya, aku dikenal sebagai "doktor" -- mondok di kantor. Tak jarang sendirian. Toh, tak segelintir pun hantu yang rela bertandang.
Waktu menjadi awak Majalah Seru!, kantorku dititipkan di Gedung Perintis, Jalan Gajah Mada. Di lantai 3. Kebetulan kantor Seru! bertetangga dengan majalah seayah-ibu, Komputer Aktif. Salah satu petinggi majalah komputer itu, FW, seorang rekan dari Jogja, juga "doktor". Praktis, tiap malam hanya kami berdua yang menghuni ruangan di lantai itu. Ternyata bukan hanya berdua. Tetapi bertiga dengan.... si muka rata!
Ya, lantai tiga rupanya menjadi habitat hantu perempuan yang tak punya wajah. Maksudnya, kata orang-orang, wajahnya tak berhidung, tak bermulut, tak bermata. Hanya datar dan rata. Seorang rekan lain, MS, tak lama sesudah azan isa terbirit-birit lari. Ngos-ngosan. Ia baru saja bersua dengan perempuan berambut panjang itu di depan toilet. Boleh Anda tahu, MS mengaku punya karunia khusus: semacam indra keenam yang mampu melihat makhluk gaib yang bagi kebanyakan orang tidak kasat mata. Dan, si muka rata bukan makhluk pertama yang pernah dipergokinya.
Toh, sekitar setahun jadi "doktor" di ruangan itu, si muka rata belum pernah kusua.
Begitu pula yang terjadi di Lantai 4 Gedung Unit II Kantor Kompas-Gramedia di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, sewaktu aku dikaryakan di penerbitan Prima Media Pustaka. Tempat dudukku persis di samping pilar, dekat pintu butulan. Kursi seorang rekan kerjaku pernah digoyang-goyang oleh sesosok hantu perempuan. Sosok itu pula yang di waktu lain membuat seorang office boy dan tenaga cleaning servicelari tunggang langgang.
Lagi-lagi, meski acap begadang atau tidur sendirian di ruang itu, hanya nyamuk yang rutin mengganggu. Kata teman-teman, hantu-hantu pasti enggan atau takut bertemu, karena aku "mbahnya setan"...
Kalau ditanya, percayakah kepada hantu? Terus terang, aku bingung menjawabnya. Tapi, kalau Anda suatu waktu merasa bertemu dengan hantu, maka aku akan cenderung berkata: penampakan hantu tak lebih dari resonansi visual ketakutan. Kalaupun takut juga, berdoalah jika Anda beragama. Jika ateis, jadi aneh jika takut hantu. Wong Tuhan  tidak dipercaya ada, kok setan bisa dianggap ada!

Sketsa Kampungan (8)

15 Desember 2011

Kosakata yang khas di dunia pertanian itu disebut ani-ani, derep dan babat pari.
Ani-ani, jelas merujuk pada sebuah alat metal setipis silet yang dipergunakan kaum wanita pedesaan untuk mengetam padi di masa panen. Derep, bermakna partisipasi memanen padi dengan sistem upah berupa bawon. Dan babat pari, lebih menunjuk pada cara memanen padi dengan sabit untuk membabat batang padi.
Sampai kurun 60-an, setidaknya di daerah kelahiranku (Kediri), pada musim panen biasanya kaum perempuan yang ikut derep. Laki-laki jarang turun ke kedokan karena tidak telaten dan tidak mahir menggunakan ani-ani. Siapa saja boleh ikut derep. Upahnya berupa gabah dalam sistem kerja yang disebut bawon. Berapa banyak bawon yang didapatkan penderep tergantung pada jumlah gabah yang berhasil diunduh, plus pola takaran yang ditentukan oleh si pemilik sawah. Misalnya, pola 10 : 1. Artinya, 10 takaran untuk pemilik sawah, dan 1 takaran sebagai upah bagi si penderep. Ada pula pola 9 : 1, atau 8 : 1. Bahkan, ada yang kelewat kikir dengan menganut pola 11 : 1 atau malahan 12 : 1. Celakalah bagi si kikir, karena sedikit saja perempuan yang bersedia mengetam di sawahnya.
Pada kurun 70-an, sistem ani-ani ditinggalkan, karena dinilai kurang efisien. Ani-ani diganti dengan sabit. Dimulailah era baru dalam kultur panen: padi bukan diketam dengan ani-ani pada tangkainya, melainkan dibabat dengan sabit pada pangkal batangnya untuk kemudian digebuk-gebukkan pada papan kayu yang disiapkan agar bulir-bulir padinya berontokan. Dengan model babat ini, pemilik sawah punya keuntungan ganda. Pertama, waktu yang dibutuhkan untuk menuai lebih cepat. Kedua, jerami padi yang sudah dibabat tinggal dijemur dan dibakar setelah kering. Kerugiannya, tak sedikit butir-butir gabah berceceran dan terbuang ketika dibabat maupun digebuk-gebukkan.
Pada kurun 90-an, menurut cerita simbok dan tetangga, derep di sawah mulai dijauhi. Zaman telah jauh berubah. Banyak orang tidak mengiler lagi pada gabah bawonDerep dinilai tidak lagi menguntungkan. Banyak orang lebih memilih pekerjaan lain di luar area pertanian. Generasi muda lebih menyukai aneka profesi modern. Yang beruntung bisa menjadi guru, polisi, tentara, atau pekerja kantoran. Yang sial, cukup menjadi kuli bangunan, satpam, tukang parkir, sopir truk atau kenek angkutan pedesaan. Para gadis memilih jadi buruh pabrik atau TKI ke Malaysia dan Arab Saudi. Tinggal orang-orang tua yang bersedia derep, itu pun perlu iming-iming tertentu, misalnya bonus berupa makan siang yang disediakan pemilik sawah.
Kini, di dekade pertama abad ke-21, para petani yang sawahnya luas tak perlu pusing cari penderep. Banyak orang butuh jerami padi sebagai pakan ternak peliharaan (sapi). Merekalah yang rela membabat padi secara cuma-cuma. Bahkan, tak sedikit yang bersedia membeli jerami padi itu dan pemilik sawah tinggal mengusung gabah hasil panennya ke rumah.
Dahulu, aku pun sempat kenyang babat. Maklum, zaman serbasusah, ketika beras tak mudah terbeli karena uang sulit dicari. Sebatok dua batok gabah bawon sangat berharga, untuk menambal sulam kebutuhan hidup yang serbarudin. Akibatnya, jumlah penderep rutin membeludak, sementara sawah yang dipanen jelas terbatas. Para pemilik sawah tak kehilangan kiat. Untuk membatasi jumlahpenderep, babat pun dilakukan malam hari. Itu pun diam-diam, atau sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang "haus bawon" juga tak kekurangan akal. Agar tak kecolongan, tiap malam rela berputar-putar di sawah-sawah yang kebetulan padinya sudah siap panen. Kalau perlu begadang semalam suntuk. Bahkan, tak sedikit yang "menginap" di tengah sawah.
Begitu pula aku. Musim panen berarti masa begadang yang meletihkan sekaligus menyebalkan. Tiap saat mesti waspada dan siaga, jika tak hendak ketinggalan babat. Simbok memang butuh bawon untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Dan, sebagai anak sulung yang menginjak dewasa, adalah kewajibanku untuk membantu-bantu. Maka, hampir tiap malam terpaksa berkeliaran untuk mengintai sawah siapa yang hendak dibabat. Apalagi, jika siang atau sorenya telah terdengar isu tentang sawah si Dadap atau si Waru yang bakal dibabat nanti malam. Berbekal sabit, berkemul sarung dan beberapa batang rokok, melanglang malam. Tidak selamanya beruntung. Terkadang terkelabui isu. Kecele. Yang dibabat justru sawah berbeda. Itu belum termasuk serangan kantuk dan gangguan aneka hewan, dari nyamuk, semut, kelabang, atau bahkan ular yang tak jarang ditemui selama nongkrong di area persawahan. Bagiku, yang paling menyebalkan, jika kehabisan stok rokok. Acap terjadi, tembakau puntung rokok dilinting sendiri, untuk memenuhi kebutuhan mulut yang kecanduan racun tar dan nikotin.
Tak selamanya menyebalkan. Ternyata, ada juga yang menyenangkan. Mengasyikkan, malahan. Menunggu babat padi di gelapnya malam tidak mesti sendirian. Kadang-kadang berdua dengan simbok. Kali lain dengan tetangga, entah berempat, bertiga, berdua... Nah, yang asyik jika berdua saja, bukan dengan nenek-nenek tentunya. Misalnya, dengan "dik-dik" atau "mbak-mbak". Duduk berendengan. Atau, meringkuk berendengan. Sambil mengobrol ngalor-ngidul. Sambil...jika beruntung, bisa sedikit "senggol-senggolan" atau bahkan "uyel-uyelan"!
Tak usah kaget, jika musim babat di dinginnya udara malam bisa dimanfaatkan oleh pasangan selingkuh untuk indehoi. Dan, seperti artis di lokasi syuting, "cinlok" -- cinta lokasi -- pun bisa terjadi!  

Sketsa Kampungan (7)

14 Desember 2011

Batu sebesar rumah itu terletak di pinggir kali. Sekelilingnya sawah dan ladang. Di dekatnya ada areal makam tua yang terbengkalai dan tak terpakai lagi. Lokasinya terpencil dan sunyi -- cukup jauh dari dua kampung yang mengapitnya, Selapanggung dan Plisangan.
Yang menarik, di atas batu raksasa itu tumbuh pohon beringin yang sekilas terdiri dari tiga batang. Akar-akarnya lilit-melilit memenuhi batu. Sebagian bergelantungan. Lewat akar-akar itulah orang biasa naik ke atas batu yang cukup lebar untuk tiduran dua pasang pengantin.
Batu superbesar itu biasa disebut Watu Jagul.
Dahulu, di masa SD, aku pernah diajak "berwisata" ke tempat itu. Selepas dari seminari, di era lotre nalo (atau: undian harapan?) pada dekade 70-an, di bawah beringin yang syahdan wingit itu aku pernah "bertapa" untuk mencari wangsit. Tidak cuma sekali. Seingatku, dua kali. Yang pertama, entah nyata entah sekadar berhalusinasi, aku melihat beberapa ekor kera berlompatan di antara dahan-dahan beringin. Nomor yang dilambangkan oleh hewan itulah yang esoknya kubidik dalam judi buntut. Kera atau monyet, menurut buku shio, bernomor 32. Maka, kubelilah kupon dengan nomor itu. Bolak-balik. Betul saja, keesokan harinya yang keluar nomor 23. Aku menang. Entah berapa jumlahnya. Seberapa pun banyaknya, akhirnya juga lenyap di meja judi: ceki...
Di Watu Jagul pula untuk pertama kalinya aku belajar menikmati estetika wanita dan menghikmati indahnya cinta. Pada suatu Minggu pagi, pacarku (kalau boleh diklaim demikian!) -- atas nama stabilitas nasional, sebut saja X -- mengajakku jalan-jalan ke sana. Bersandar batu sebesar kerbau di pinggir kali, di bawah batu raksasa itu, aku diajarinya berciuman. Untuk kali pertama, aku tahu rasanya ciuman. Ciuman pertama, pada cinta pertama... Untuk pertama kali pula aku belajar me..... sebut saja salah satu puncak estetika wanita. Amboi! Dalam perjalanan pulang, kami bernyanyi-nyanyi:sepanjang jalan kenangan... dan seterusnya.
Tak genap sebulan kemudian, aku kembali ke batu raksasa itu. Kali itu, dengan membawa kemarahan sekaligus kepedihan. Bagaimana tidak! Sepulang dari sawah (waktu itu aku tergolong petani muda teladan sekecamatan!), kupergoki X berpelukan dengan B, sahabatku. Jagat terasa oleng. Di hatiku ada magma yang langsung bergolak. Di kepalaku ada sesuatu yang siap meledak. Nyaris gelap mata. Hampir saja, sabit atau cangkul yang sehari-hari bertugas membabat rumput dan mengaduk tanah itu punya kegunaan lain: membunuh!
Siang itu pula, sambil mengendapkan emosi yang meletup-letup, aku berkemas. Menenteng ransel berisi beberapa potong kaus, sarung, bolpoin, notes tebal, beberapa bungkus rokok kretek dan korek api, aku bergegas ke Watu Jagul. Kali ini benar-benar untuk bertapa. Sedikitnya tiga hari dua malam aku mendekam di bawah beringin di atas batu itu. Begadang, sembari tak putusnya mengutuki dunia. Tertidur, jika betul-betul tak kuat lagi menahan kantuk. Turun, jika tak tahan lagi oleh serbuan rasa lapar. Selama itu perutku praktis hanya berisi ikan bakar (kocelan/gabus, wader, uceng dan lele) yang kutangkap di kali. Pernah sekali, begitu kangennya terhadap nasi, aku mendaki ke Desa Selapanggung untuk mencari warung.
Yang kulakukan hanya terlongong-longong. Merutuk-rutuk. Sambil mencoret-coret. Notesku berisi aneka rintihan, plus kutukan, dalam bentuk sajak. Sebagian tulisan mencang-mencong, karena temaramnya sinar bulan. Di salah satu halaman, kutulis besar-besar: The First Cut Is the Deepest!Sebagian dari aneka coretan ini di kemudian hari kusulap jadi sajak, cerita pendek, dan novel yang dipublikasikan di koran.
Pada hari ketiga, menjelang petang aku memutuskan untuk pulang. Malam itu, aku harus berbicara dalam suatu forum pertemuan muda-mudi gereja. Yang pahit, pertemuan juga dihadiri oleh X dan B yang duduk berdampingan!
Keputusan revolusioner yang kubuat selama bertapa kulaksanakan keesokan harinya. Aku mesti pergi dari Pohsarang. Ke Bandung. Jika bukan untuk mencari nasib, sekurangnya untuk melarikan diri. Belakangan, keputusan itu kuanggap benar. Dan, kusyukuri diam-diam. Dengan menjadi urban, setidaknya aku batal menjadi buruh tani atau penjudi. Berkah lain, di kota besar aku leluasa bertualang lantaran perempuan dan cinta ternyata lebih berwarna dan beragam. Blessing in disguise, bukan?

Sketsa Kampungan (6)

13 Desember 2011

Believe it or not!
Namanya Sontono. Penduduk Pohsarang biasa memanggilnya Mbah Basir. Dialah kakekku (dari pihak ayah), yang selama hidupnya pernah tiga kali menikah. Yang unik, mendiang ketiga istrinya punya profesi yang sama: dukun beranak.
Di masa mudanya, kakek terhitung jagoan. Bahkan, menurut ceritanya sendiri, pada zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pernah menjadi maling/perampok. Beberapa kali keluar-masuk bui. Untuk "prestasi" ini, ada sejumlah tanda mata yang tertera abadi di tubuhnya: tato (cap) penjara.
Menurut cerita tetangga yang sebaya, kakek punya banyak "ilmu" (dalam pengertian kejawen). Salah satunya, "ilmu sirep". Suami-istri yang tidur nyenyak di rumah yang hendak dirampoknya dengan gampang dipindahkannya ke kebun belakang, masih dalam keadaan lelap. Mirip Robin Hood, pada zaman Jepang kakek juga pernah menjebol lumbung padi agar bisa dijarah para penduduk desa yang kelaparan.
Ilmu lain, disebutnya "kembang wijayakusuma". Dalam dunia pewayangan, nama itu sebutan untuk senjata Kresna, yang fungsinya untuk menghidupkan kembali orang yang mati sebelum waktunya. Tentu saja, bukan senjata sakti semacam itu milik kakek. Ilmu kakek tidak berbentuk  senjata. Hanya berupa mantra. Fungsinya juga bukan untuk menghidupkan kembali orang mati. Tetapi, demikian kata kakek, jika belum diwariskan kepada anak atau cucu, tak bakalan mati-mati.
Ketika usianya melewati angka 100, kakek mulai gemar merengek. Ilmu itu harus segera dilepaskan. Caranya cuma satu, diwariskan. Akulah yang dipilihnya sebagai pewaris. Yang menyedihkan sekaligus menjengkelkan, setiap ada orang mati, apalagi lebih muda, kakek selalu menangis. Tak tertarik, rengekan itu selalu kutolak. Kupikir, apa salahnya hidup lama. Toh, tidak merepotkan. Kakek tetap sehat dan tangkas. Tidak pikun. Tetap gemar ayam goreng. Tetap pula merokok.
Lama-lama aku bosan juga mendengarkan rengekannya. Pikirku, apa ruginya menyenangkan hati kakek. Toh, sejarah mengajarkan, peluru dan bom jauh lebih mematikan ketimbang ilmu kesaktian. Mustahil ada ilmu yang membuat orang sulit mati, apalagi panjang umur. Juga tak masuk akal, jika pelepasan ilmu itu akan membuat pemiliknya cepat mati. Karena logika ini, ditambah dengan niat untuk menyenangkan hati kakek, tawaran "omong kosong" itu pun akhirnya kuterima. Dengan satu syarat, asal boleh diterima berdua -- dengan seorang teman, S, yang berminat.
Maka, dipilihlah hari untuk upacara pewarisan, Kamis malam Jumat (seingatku Jumat Kliwon). Persiapan pun dilakukan. Mantra harus dihafalkan. Selain bunga (aku lupa jenis-jenisnya), ayam hitam mulus bakal disembelih dan diambil darahnya. Persis tengah malam, ritus pun digelar diam-diam (tanpa sepengetahuan ayah yang memang tidak setuju dan melarangku mewarisi ilmu), di rumah seorang paman.
Jumat sore, sekitar azan magrib, aku sedang menggerogoti tulang ayam di dapur ketika adik perempuanku memberi tahu, kakek memanggil-manggil namaku. Nadanya setengah panik. Aku berlari ke biliknya. Dan, kakek tergolek di ambennya. Telentang. Tangan kiri masih memegang rokok "tingwe" (melinting dewe/lintingan sendiri) yang masih menyala. Di kursi, piring makannya sudah kosong. Tinggal tulang paha ayam. Ketika tubuhnya kuguncang-guncang, kakek tetap bergeming. Tak menjawab. Tak bergerak. Dan, bernapas pun tidak.
Ya, kakek telah dipundut Gusti, hanya selang 18 jam setelah mewariskan ilmu sialan itu kepadaku!
Digedor-gedor rasa bersalah, aku mengguguk. Seingatku, itulah kali terakhir aku menangis... 

Sketsa Kampungan (5)

12 Desember 2011

Ejakulasiku yang pertama terjadi bukan karena perempuan. Bukan pula (maaf!) onani. Tetapi, karena buku!
Tak teringat lagi kapan persisnya pengalaman absurd itu berlangsung. Yang pasti, pada suatu malam di kamar mandi, ketika duduk di bangku kelas III (SMP) seminari. Ya, aku memang bersekolah di seminari -- sebuah lembaga pendidikan khusus yang siswa-siswanya diarahkan untuk menjadi pastor. Dan pastor, Anda tahu, hidup selibat. Membujang seumur hidup. Artinya, wajib steril dari cinta-cintaan dan coitus.
Hidup di asrama, bagai siklus yang selalu berulang. Bunyi lonceng (bel) menjadi penanda waktu untuk mandi, rekreasi, tidur, belajar (di ruang studi), bersekolah (di ruang kelas), makan, berdoa dan seterusnya. Tentu saja, ada sekian aturan yang wajib dipatuhi. Pada jam tidur umpamanya, berlaku hukum silentium magnum -- bangsal mesti sunyi senyap! Bicara, meski sekadar bisik-bisik, dilarang. Pelanggaran bakal mendatangkan teguran atau hukuman. Praktis, yang namanya kebebasan (untuk remaja di usia pubertas) nyaris tak bersisa.
Surat-suratan memang dibolehkan, namun (ternyata) harus melalui lembaga sensor. Tiap surat yang dikirimkan atau diterima dipantau ketat. Berkirim surat kepada cewek? Bisa gawat. Pasti dipanggil dan diinterogasi. Mesti cerdik jika hendak "pacar-pacaran". Nama sang gadis perlu disamarkan dengan nama laki-laki. Isinya pun tak perlu macam-macam. Harus jauh dari konotasi, apalagi denotasi, kangen-kangenan atau sayang-sayangan. Jika tidak, akibatnya bisa runyam! Perkara ini sesungguhnya layak dimaklumi. Tentu saja, calon pastor diharamkan belajar cinta-cintaan!
Untuk buku dan majalah juga ada rambu-rambunya. Memang, tersedia ribuan buku dan majalah (aku pernah dipilih sebagai ketua perpustakaan). Novel, roman, kumpulan sajak, telaah sastra -- dari sastra Indonesia hingga dunia -- seabrek! Apalagi buku-buku bertema filsafat, agama, dan teologi (kebanyakan berbahasa asing, dari Inggris, Belanda, hingga Latin). Novel pop, karya Abdulah Harahap atau Freddy S? Tak satu pun tersedia.
Majalah? Yang ada Sastra (setelah ditutup lantaran kasus Langit Makin Mendung diganti denganHorison), Basis, Budaja Djaja, Window of the World, Praba dan semacamnya. Jangan harapkan majalah hiburan yang pada dekade itu tengah "ngetop", seperti Variasi, Varia, Aktuil, Selekta dan sejenisnya yang memuat banyak foto artis cantik. Para calon pastor mesti terjauhkan dari aneka media yang beraromakan simbol-simbol seksualitas perempuan.
Toh, bukan berarti bangsal tidur steril dari majalah-majalah pop semacam itu. Biasanya, sepulang libur kuartalan, ada saja siswa yang diam-diam membawa majalah "begituan" ke asrama. Secara subversif majalah itu akan beredar dari satu tangan ke tangan lainnya. Jika tidak memungkinkan untuk diam-diam dibaca di ruang studi (kalau dipergoki tutor atau pengawas, bakal runyam!), bisa dipelototi di kamar mandi pada jam tidur malam (di atas pukul 22.00 WIB). Ini pun wajib ekstrawaspada, agar tidak diketahui pengawas yang sekali waktu meronda!
Nah, ada sebuah buku tipis yang juga beredar secara subversif. Judulnya keren (jika bukan sadis): Janda yang Liar. Pengarangnya? Enny Arrow (sekian tahun kemudian, setelah menjadi urban di Bandung baru kuketahui pengarang yang konon misterius itu memang spesialis cerita-cerita cabul). Tak kuingat pasti siapa yang menyelundupkan buku stensilan itu ke asrama. Yang pasti, pada suatu hari jatuh ke tanganku. Dan, sembunyi-sembunyi aku membacanya di kamar mandi lewat tengah malam. Isinya? Tak sulit untuk menduganya. Kurang lebih, sama saja dengan film biru model 3X yang kini luas beredar. Kelewat eksplisit. Sangat kasar. Seratus persen vulgar.
Buku haram itu membuatku gegar otak sekaligus gegar syahwat. Bukan hanya celanaku mendadak basah (jelas bukan ngompol!), otakku juga sempat mengalami fase obsesif yang membingungkan. Katanya, seks manifestasi cinta. Kok diobral?
Persepsiku tentang aktus seksual juga bergeser, jika bukan bertambah "kaya". Rupanya, hubungan intim tidak hanya boleh lembut dan tenang. Tidak cuma melenguh dan berbisik-bisik. Ternyata, boleh juga menjerit-jerit seperti orang kerasukan setan. Boleh berisik....