Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (9)

16 Desember 2011

Pocong, kuntilanak, wewe gombel, jin, glundung plecek, wedon, banaspati, genderuwo, sundel bolong dan sekian jenis hantu lain yang jelek ataupun cantik, jahat ataupun baik: di mana tempatmu di dunia?
Ya, fenomena berbagai makhluk gaib itu dikenal di kebudayaan mana pun, mungkin dengan nama berbeda dan deskripsi bentuk visual serta karakteristik yang tidak sama pula. Di mana-mana ada cerita hantu. Bukan hanya di Indonesia. Bahkan, di segala selempitan dunia. Di Amerika Serikat yang masyarakatnya sudah demikian rasional dan maju tetap saja mengenal gejala mistis ini dan sejumlah tempat dikatakan angker pula. Malahan, Gedung Putih disebut-sebut berhantu. Beberapa mantan presiden negeri adikuasa itu dikatakan acap muncul di Gedung Putih sebagai hantu. Sejumlah artis terkenal, dari Marilyn Monroe, Elvis Presley hingga Michael Jackson, juga bergentayangan sebagai hantu. 
Masa kecilku juga dipenuhi oleh berbagai penampakan hantu...
Bisa jadi, hantu lebih nyaman bermukim di desa ketimbang di kota. Di desa, banyak tempat dikatakan berhantu. Banyak orang mengaku mengalami penampakan hantu. Aneka cerita hantu jadi menu obrolan ibu-ibu yang petan (cari kutu), yang mungkin lebih seru ketimbang pergunjingan gosip artis di zaman sekarang.
Sudah barang tentu, di pedesaan atmosfer mistis jelas lebih terasa dan mengemuka. Masyarakat rural yang mayoritas anggotanya paling tinggi tamatan sekolah rakyat atau sekolah dasar, memang penuh mitos dan takhayul. Semar, yang jelas-jelas hanya tokoh fiktif dalam dunia pewayangan yang diadopsi dari epos Mahabharata dan diimpor dari India, diyakini sebagai figur riil yang "mengelola" tanah Jawa. Di sebuah sudut ranah Kediri (Jawa Timur), ada sebuah petilasan dengan patung buruk yang diyakini pernah disinggahi oleh Hanoman, juga tokoh wayang, salah satu protagonis dalam epos Ramayana -- yang juga diimpor dari India. Meletusnya Gunung Kelud selalu diidentifikasi sebagai wujud kemurkaan sebentuk monster -- bisa naga, bisa raksasa -- yang bersemayam di perut bumi. Boleh percaya boleh tidak, mantra dan semburan air ludah bacin dukun jelek lebih dipercaya khasiatnya ketimbang obat atau jarum suntik dokter, untuk si anak tersayang yang mencret atau demam. 
Dalam tatanan sosial dengan aneka klenik dan takhayul yang tumbuh subur itu, eksistensi aneka makhluk gaib mendapat tempat istimewa. Dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit perkara nyata dihubung-hubungkan dengan fenomena gaib. Trance atau kerasukan, misalnya, adalah merasuknya roh, atau arwah, atau setan usil, ke dalam tubuh seseorang. Tak bisa tidak. Penjelasan psikologis tak bisa diterima. Kegilaan seseorang ada korelasinya dengan perkara gaib. Hilangnya seorang anak di rembang petang selalu dihubungkan dengan kejahilan sesosok gaib: genderuwo atau wewe gombel. Kalau seorang anak rewel dan tak juga tidur, simbok selalu menakut-nakuti, "Cepatlah bobok, Nak. Kalau tidak, nanti diculik Buto Ijo!"       
Apalagi, pada era 60-an dan 70-an, fenomena mistis dan supranatural itu masih kental. Lingkungan alam ikut menunjang. Pada kurun-kurun itu, kampung masih gulita. Gelap di mana-mana. Maklum, listrik belum ada. Tiap rumah hanya diterangi oleh lampu ublik, teplok atau cempor. Ke mana-mana, termasuk ke kali jika kebelet untuk buang hajat (sungai menjadi MCK terpanjang di dunia!), mesti bawa oncor (obor) jika tak ingin diganggu hantu. Atau, tersandung batu dan jatuh terjengkang. Senter masih jadi barang mewah dan langka.
Karena jumlah penduduk masih sedikit, suasana sehari-hari -- apalagi di waktu malam, terasa lengang. Ada banyak ruang kosong yang terkesan longgar. Jarak antarrumah tidak berimpitan seperti sekarang. Tak sedikit rumah berhalaman luas. Ada banyak kebun kosong. Ada bulak panjang. Di mana-mana masih rungkut oleh semak dan pohon-pohonan. Di berbagai sudut, ada batu dan atau pohon raksasa. Dan, ada sekian batu atau pohon yang dipercaya "berhuni" sebagai tempat mukim suatu makhluk gaib. Setahuku, pada masa itu, setiap kampung punya danyang (sang bahureksa area itu) masing-masing yang dipercaya bermukim di suatu tempat wingit tertentu. Dan, batu, pohon atau tempat (bisa saja berupa sepetak tebing cadas di tepi kali) semacam itu senantiasa dikeramatkan. Banyak warga rutin mengiriminya kembang dan membakar kemenyan. Sisa-sisa animisme dan dinamisme itu tetap terlestarikan -- mungkin di banyak tempat hingga sekarang.
Pada wayah sepi uwong  -- ketika orang-orang dewasa telah menyelarak pintu rumah untuk tidur, dunia sekitar menjadi sepi. Yang gampang tertangkap telinga hanya derik jangkrik, jeritan burung bence, dengkung kodok, teriakan tonggeret... Ada juga suara radio. Jika bukan irama Melayu (waktu itu sebutan dangdut belum begitu dikenal), ya uyon-uyon Jawa. Diseling tangisan bayi, yang rewel. Mungkin karena lapar dan gagal menemukan tetek kempis ibunya yang terlelap karena kecapaian kerja. Suara televisi? Seingatku, sampai awal kurun 70-an, di kampungku hanya satu keluarga kaya yang punya pesawat televisi hitam putih. Itu pun hanya disetel (dengan aki) untuk waktu yang terbatas. Selebihnya, sunyi bersipongang...
Ya senyap, ya gelap...
Berkali-kali, aku merasa melihat atau mendengar "sesuatu". Yang ganjil atau tak masuk akal. Pernah, sepulang nonton wayang, nyaris ditubruk seekor kuda yang melintas jalan. Di sisi kanan jalan, adalah kebun kosong yang sebelumnya pernah jadi instal kuda. Sisi kiri, adalah tebing tinggi ke sungai. Artinya, kuda itu berlari ke arah tebing dan terjun ke kali. Sempat kudengar bunyi tapak kuda itu. Sempat kudengar pula, gemeretak pagar bambu yang berpatahan karena dilanggar. Secara visual, mataku hanya menangkap sekelebat bayangan hitam. Aku pun kontan jatuh terduduk. Dan, mengompol di celana. Esok harinya, kutemukan, pagar bambu itu masih utuh. Tak satu pun bilahnya yang patah.
Di belakang rumah, kebun rimbun oleh aneka pohon dan rumpun bambu (ori). Kalau hendak ke sungai, mesti melewati jalan setapak di bawah salah satu rumpun bambu berduri itu. Pernah, suatu malam hendak pergi ke sawah. Bersama tiga teman. Dan... dari lengkungan carang (ranting yang berduri dan berdaun) bambu itu mendadak air mengucur. Seperti pancuran kecil. Bunyinya jelas terdengar bergemericik. Seperti bunyi kencing kerbau atau sapi. Yang mengherankan, saat itu musim kemarau. Jelas bukan hujan. Dan, aku merasa guyuran air itu menimpa kepala. Anehnya, sama sekali tidak basah. Kami langsung sadar (merasa?), makhluk halus -- mungkin genderuwo bengal -- sedang bermain-main. Kencing sembarangan.
Kali lain, kudengar tangisan bayi, kudengar orang yang ciblon (memukul-mukul permukaan air untuk membuat suara dengan musikalitas tertentu) di selokan yang aliran airnya tak lebih besar dari kencing monyet, kulihat sosok tentara berbambu runcing di pematang sawah (di sekitar lokasi memang ada satu kuburan gerilyawan tak dikenal yang syahdan gugur oleh tentara Jepang), kulihat sosok hitam yang membuat pucuk batang bambu naik-turun seperti ayun-ayunan, dan aneka penampakan yang "kutangkap" secara berbeda-beda. Sekali waktu berupa suara. Waktu lain berbentuk bayangan.
Takut? Pada momen itu, jelas takut. Bulu kuduk juga meremang. Toh, tak pernah kapok. Aku selalu doyan keluyuran malam.
Di kemudian hari, setelah dewasa, peristiwa yang bisa diasumsikan sebagai penampakan makhluk gaib itu justru tak pernah lagi kualami. Selama menjadi wartawan di Jakarta umpamanya, aku dikenal sebagai "doktor" -- mondok di kantor. Tak jarang sendirian. Toh, tak segelintir pun hantu yang rela bertandang.
Waktu menjadi awak Majalah Seru!, kantorku dititipkan di Gedung Perintis, Jalan Gajah Mada. Di lantai 3. Kebetulan kantor Seru! bertetangga dengan majalah seayah-ibu, Komputer Aktif. Salah satu petinggi majalah komputer itu, FW, seorang rekan dari Jogja, juga "doktor". Praktis, tiap malam hanya kami berdua yang menghuni ruangan di lantai itu. Ternyata bukan hanya berdua. Tetapi bertiga dengan.... si muka rata!
Ya, lantai tiga rupanya menjadi habitat hantu perempuan yang tak punya wajah. Maksudnya, kata orang-orang, wajahnya tak berhidung, tak bermulut, tak bermata. Hanya datar dan rata. Seorang rekan lain, MS, tak lama sesudah azan isa terbirit-birit lari. Ngos-ngosan. Ia baru saja bersua dengan perempuan berambut panjang itu di depan toilet. Boleh Anda tahu, MS mengaku punya karunia khusus: semacam indra keenam yang mampu melihat makhluk gaib yang bagi kebanyakan orang tidak kasat mata. Dan, si muka rata bukan makhluk pertama yang pernah dipergokinya.
Toh, sekitar setahun jadi "doktor" di ruangan itu, si muka rata belum pernah kusua.
Begitu pula yang terjadi di Lantai 4 Gedung Unit II Kantor Kompas-Gramedia di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, sewaktu aku dikaryakan di penerbitan Prima Media Pustaka. Tempat dudukku persis di samping pilar, dekat pintu butulan. Kursi seorang rekan kerjaku pernah digoyang-goyang oleh sesosok hantu perempuan. Sosok itu pula yang di waktu lain membuat seorang office boy dan tenaga cleaning servicelari tunggang langgang.
Lagi-lagi, meski acap begadang atau tidur sendirian di ruang itu, hanya nyamuk yang rutin mengganggu. Kata teman-teman, hantu-hantu pasti enggan atau takut bertemu, karena aku "mbahnya setan"...
Kalau ditanya, percayakah kepada hantu? Terus terang, aku bingung menjawabnya. Tapi, kalau Anda suatu waktu merasa bertemu dengan hantu, maka aku akan cenderung berkata: penampakan hantu tak lebih dari resonansi visual ketakutan. Kalaupun takut juga, berdoalah jika Anda beragama. Jika ateis, jadi aneh jika takut hantu. Wong Tuhan  tidak dipercaya ada, kok setan bisa dianggap ada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar