17 Desember 2011
Kelaparan membuat mulut jadi clutak... Paling tidak, mulut kecilku.
Yang dimaksud clutak, bukan sekadar rakus. Clutak namanya, jika mulut ingin mengunyah banyak-banyak. Karena tidak ada stok makanan, maka apa pun yang tidak biasa dikonsumsi dan belum tentu enak, tetap ditelan lantaran rasa lapar yang tak hentinya mendesak-desak.
Bayangkan sebuah zaman serbasusah (malaise, istilah kerennya), di masa Bung Karno, ketika perekonomian nasional ambruk dan kondisi politik tak hentinya bergolak yang kemudian memuncak pada September 1965 yang dalam bahasa rezim Soeharto disebut G-30-S PKI. Sebuah huru-hara besar yang membunuh ratusan ribu anak bangsa. Serbakisruh. Rupiah sempat mengalami sanering, dari Rp1000 menjadi Rp1. Tingkat inflasi yang besarnya 27% pada 1961 naik menjadi 174% pada 1962 dan pada 1965 melambung tinggi, 600%. Kebanyakan orang desa tak tahu lagi gambar yang tertera di uang kertas atau logam. Kemiskinan nyaris merata. Kelaparan mewabah di mana-mana. Sempat ada bantuan "sembako" dari Amerika: bulgur, havermut, susu bubuk (prongkolan), jagung, minyak goreng, dan entah apa lagi, bagi penduduk pedesaan yang 100 persen bisa dikategorikan melarat. Aku ingat, beberapa kali sempat ikut mengantre bersama simbokku. Tetapi, begitu Bung Karno mengobarkan antiimperialisme dan kolonialisme Barat, sumbangan pangan itu dihentikan.
Bayangkan kesengsaraan rakyat. Benar-benar kesrakat. Juga keluargaku. Ayahku belum menjadi petani, karena tidak punya sawah. Untuk sekadar makan pun susahnya minta ampun. Jangan tanyakan soal kelayakan, apalagi kenikmatan, menu. Jangan persoalkan pula perkara gizi atau nutrisi. Ada yang asal bisa dikunyah dan ditelan pun sudah berkah. Bisa rutin makan nasi tiwul (baca Sketsa Kampungan 4) atau jagung terhitung beruntung. Keluarga lain mungkin hanya mampu menyantap sekerat dua kerat singkong bakar, yang dicabut dari kebun tetangga. Atau, sekadar melahap jangan(sayur) dari tanaman krokot atau daun telan (tumbuhan liar yang daunnya kecil-kecil mirip daun ubi rambat), asal perut berisi dan tidak kelewat keroncongan.
Agar bisa tetap makan, ayahku harus merambah hutan lebat di lereng-lereng Wilis. Sekali waktu mencari rotan. Lain waktu mencari bambu petung untuk dijadikan talang. Atau, membuat arang. Pernah aku diajak ke hutan dan menginap dua malam. Sekali untuk mencari rotan. Kedua kali untuk membuat arang. Untuk tidurku, ayah membuat "kemah" beratapkan daun-daunan. Berbekal tiwul yang hampir garing. Lauknya? Ular ditangkap dan dibakar.
Rotan, talang atau arang itu lalu dijual ke kota, Kediri. Pulangnya, gaplek atau jagung dibawa. Apa yang dengan susah payah dibeli ayah itulah yang oleh simbok diolah. Untuk santapan hari itu. Untuk menyuapi mulutku yang maunya tak henti memamah. Untuk mengisi bermeter-meter usus yang senantiasa rakus. Itu belum termasuk mulut dan perut dua adikku.
Seperti kebanyakan anak-anak lain yang sama rudinnya dan sama pula clutak-nya, nasi tiwul atau jagung di rumah tak cukup "memuaskan" perutku yang buncit karena cacingan. Sambil ngarit (menyabit rumput untuk pakan ternak peliharaan), apa saja yang kira-kira bisa dikunyah diembat. Kenakalan, berupa pencurian terhadap tanaman orang lain, menjadi hal lumrah. Singkong, ubi rambat, ubi jalar, talas, ganyong, garut, entik, mangga, duwet, kacang, dan aneka tanaman palawija lain di sawah atau tegalan setan mana pun bisa menjadi sasaran kenakalan. Tak jarang, kacang panjang, kacang tunggak muda, terong, terikan (sisa ubi rambat yang tumbuh lagi) dan macam-macam tanaman mentah dilahap pula. Tak soal juga andaikan masih berlepotan tanah.
Saking clutak-nya, karena siksaan rasa lapar, tiga sampai lima ekor jangkrik disunduki mirip satai, kemudian dibakar. Begitu pula belalang kayu yang bernasib malang. Tak peduli cuma seekor atau dua ekor, langsung dipanggang. Tak jarang, yuyu (kepiting) yang berkeliaran di sawah atau sungai, dibakar dan digerogoti untuk menyumpal perut yang tak hentinya "bernyanyi-nyanyi".
Konyolnya, sekaligus tololnya, umbi-umbian beracun pun diganyang. Aku pernah muntah-muntah karena ngotot melahap gadung bakar, yang jelas-jelas tidak enak dan tak lazim langsung dimakan (perlu diolah secara khusus untuk membuang racun yang dikandungnya). Pernah pula mabuk berat dan muntah-muntah, karena kebanyakan telur. Ceritanya, sehabis sakit aku mengidam telur rebus -- yang setahun sekali belum tentu bisa kunikmati. Kakek punya banyak ayam dan ada yang sedang bertelur. Meski merengek-rengek, kakek tak hendak merelakan telur ayamnya untuk menjadi calonfaeces di ususku. Aku marah besar. Suatu kali, belasan telur satu sarang kucuri dan kurebus di tegalan. Sumber gizi curian itulah yang kemudian membuat kepalaku pusing 70 keliling dan perutku mulas-mulas seperti habis ditanduk kerbau gemuk.
Lantaran begitu sulitnya untuk bisa tetap makan dan tidak kelaparan, sejak dini ayah selalu mengajarkan agar tidak membuang-buang nasi. Ayah pasti marah jika di piring seng makanku nasi tersisa. Hukumnya, piring harus selicin dan semulus marmer buatan Tulungagung. Sebutir upa pun haram disia-siakan. Harus dipungut, dan dikirim ke dalam perut.
Untuk waktu yang lama aku nyaris sepenuhnya patuh terhadap ajaran ayah. Seluruh isi piring otomatis ludes dan tandas. Di kemudian hari, ternyata tak mudah lagi untuk menghormati dan menghargai rezeki. Agaknya, aku telah terjangkit penyakit sok kaya dengan membuang-buang makanan, termasuk nasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar