Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (7)

14 Desember 2011

Batu sebesar rumah itu terletak di pinggir kali. Sekelilingnya sawah dan ladang. Di dekatnya ada areal makam tua yang terbengkalai dan tak terpakai lagi. Lokasinya terpencil dan sunyi -- cukup jauh dari dua kampung yang mengapitnya, Selapanggung dan Plisangan.
Yang menarik, di atas batu raksasa itu tumbuh pohon beringin yang sekilas terdiri dari tiga batang. Akar-akarnya lilit-melilit memenuhi batu. Sebagian bergelantungan. Lewat akar-akar itulah orang biasa naik ke atas batu yang cukup lebar untuk tiduran dua pasang pengantin.
Batu superbesar itu biasa disebut Watu Jagul.
Dahulu, di masa SD, aku pernah diajak "berwisata" ke tempat itu. Selepas dari seminari, di era lotre nalo (atau: undian harapan?) pada dekade 70-an, di bawah beringin yang syahdan wingit itu aku pernah "bertapa" untuk mencari wangsit. Tidak cuma sekali. Seingatku, dua kali. Yang pertama, entah nyata entah sekadar berhalusinasi, aku melihat beberapa ekor kera berlompatan di antara dahan-dahan beringin. Nomor yang dilambangkan oleh hewan itulah yang esoknya kubidik dalam judi buntut. Kera atau monyet, menurut buku shio, bernomor 32. Maka, kubelilah kupon dengan nomor itu. Bolak-balik. Betul saja, keesokan harinya yang keluar nomor 23. Aku menang. Entah berapa jumlahnya. Seberapa pun banyaknya, akhirnya juga lenyap di meja judi: ceki...
Di Watu Jagul pula untuk pertama kalinya aku belajar menikmati estetika wanita dan menghikmati indahnya cinta. Pada suatu Minggu pagi, pacarku (kalau boleh diklaim demikian!) -- atas nama stabilitas nasional, sebut saja X -- mengajakku jalan-jalan ke sana. Bersandar batu sebesar kerbau di pinggir kali, di bawah batu raksasa itu, aku diajarinya berciuman. Untuk kali pertama, aku tahu rasanya ciuman. Ciuman pertama, pada cinta pertama... Untuk pertama kali pula aku belajar me..... sebut saja salah satu puncak estetika wanita. Amboi! Dalam perjalanan pulang, kami bernyanyi-nyanyi:sepanjang jalan kenangan... dan seterusnya.
Tak genap sebulan kemudian, aku kembali ke batu raksasa itu. Kali itu, dengan membawa kemarahan sekaligus kepedihan. Bagaimana tidak! Sepulang dari sawah (waktu itu aku tergolong petani muda teladan sekecamatan!), kupergoki X berpelukan dengan B, sahabatku. Jagat terasa oleng. Di hatiku ada magma yang langsung bergolak. Di kepalaku ada sesuatu yang siap meledak. Nyaris gelap mata. Hampir saja, sabit atau cangkul yang sehari-hari bertugas membabat rumput dan mengaduk tanah itu punya kegunaan lain: membunuh!
Siang itu pula, sambil mengendapkan emosi yang meletup-letup, aku berkemas. Menenteng ransel berisi beberapa potong kaus, sarung, bolpoin, notes tebal, beberapa bungkus rokok kretek dan korek api, aku bergegas ke Watu Jagul. Kali ini benar-benar untuk bertapa. Sedikitnya tiga hari dua malam aku mendekam di bawah beringin di atas batu itu. Begadang, sembari tak putusnya mengutuki dunia. Tertidur, jika betul-betul tak kuat lagi menahan kantuk. Turun, jika tak tahan lagi oleh serbuan rasa lapar. Selama itu perutku praktis hanya berisi ikan bakar (kocelan/gabus, wader, uceng dan lele) yang kutangkap di kali. Pernah sekali, begitu kangennya terhadap nasi, aku mendaki ke Desa Selapanggung untuk mencari warung.
Yang kulakukan hanya terlongong-longong. Merutuk-rutuk. Sambil mencoret-coret. Notesku berisi aneka rintihan, plus kutukan, dalam bentuk sajak. Sebagian tulisan mencang-mencong, karena temaramnya sinar bulan. Di salah satu halaman, kutulis besar-besar: The First Cut Is the Deepest!Sebagian dari aneka coretan ini di kemudian hari kusulap jadi sajak, cerita pendek, dan novel yang dipublikasikan di koran.
Pada hari ketiga, menjelang petang aku memutuskan untuk pulang. Malam itu, aku harus berbicara dalam suatu forum pertemuan muda-mudi gereja. Yang pahit, pertemuan juga dihadiri oleh X dan B yang duduk berdampingan!
Keputusan revolusioner yang kubuat selama bertapa kulaksanakan keesokan harinya. Aku mesti pergi dari Pohsarang. Ke Bandung. Jika bukan untuk mencari nasib, sekurangnya untuk melarikan diri. Belakangan, keputusan itu kuanggap benar. Dan, kusyukuri diam-diam. Dengan menjadi urban, setidaknya aku batal menjadi buruh tani atau penjudi. Berkah lain, di kota besar aku leluasa bertualang lantaran perempuan dan cinta ternyata lebih berwarna dan beragam. Blessing in disguise, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar