Minggu, 25 Desember 2011

Sketsa Kampungan (6)

13 Desember 2011

Believe it or not!
Namanya Sontono. Penduduk Pohsarang biasa memanggilnya Mbah Basir. Dialah kakekku (dari pihak ayah), yang selama hidupnya pernah tiga kali menikah. Yang unik, mendiang ketiga istrinya punya profesi yang sama: dukun beranak.
Di masa mudanya, kakek terhitung jagoan. Bahkan, menurut ceritanya sendiri, pada zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pernah menjadi maling/perampok. Beberapa kali keluar-masuk bui. Untuk "prestasi" ini, ada sejumlah tanda mata yang tertera abadi di tubuhnya: tato (cap) penjara.
Menurut cerita tetangga yang sebaya, kakek punya banyak "ilmu" (dalam pengertian kejawen). Salah satunya, "ilmu sirep". Suami-istri yang tidur nyenyak di rumah yang hendak dirampoknya dengan gampang dipindahkannya ke kebun belakang, masih dalam keadaan lelap. Mirip Robin Hood, pada zaman Jepang kakek juga pernah menjebol lumbung padi agar bisa dijarah para penduduk desa yang kelaparan.
Ilmu lain, disebutnya "kembang wijayakusuma". Dalam dunia pewayangan, nama itu sebutan untuk senjata Kresna, yang fungsinya untuk menghidupkan kembali orang yang mati sebelum waktunya. Tentu saja, bukan senjata sakti semacam itu milik kakek. Ilmu kakek tidak berbentuk  senjata. Hanya berupa mantra. Fungsinya juga bukan untuk menghidupkan kembali orang mati. Tetapi, demikian kata kakek, jika belum diwariskan kepada anak atau cucu, tak bakalan mati-mati.
Ketika usianya melewati angka 100, kakek mulai gemar merengek. Ilmu itu harus segera dilepaskan. Caranya cuma satu, diwariskan. Akulah yang dipilihnya sebagai pewaris. Yang menyedihkan sekaligus menjengkelkan, setiap ada orang mati, apalagi lebih muda, kakek selalu menangis. Tak tertarik, rengekan itu selalu kutolak. Kupikir, apa salahnya hidup lama. Toh, tidak merepotkan. Kakek tetap sehat dan tangkas. Tidak pikun. Tetap gemar ayam goreng. Tetap pula merokok.
Lama-lama aku bosan juga mendengarkan rengekannya. Pikirku, apa ruginya menyenangkan hati kakek. Toh, sejarah mengajarkan, peluru dan bom jauh lebih mematikan ketimbang ilmu kesaktian. Mustahil ada ilmu yang membuat orang sulit mati, apalagi panjang umur. Juga tak masuk akal, jika pelepasan ilmu itu akan membuat pemiliknya cepat mati. Karena logika ini, ditambah dengan niat untuk menyenangkan hati kakek, tawaran "omong kosong" itu pun akhirnya kuterima. Dengan satu syarat, asal boleh diterima berdua -- dengan seorang teman, S, yang berminat.
Maka, dipilihlah hari untuk upacara pewarisan, Kamis malam Jumat (seingatku Jumat Kliwon). Persiapan pun dilakukan. Mantra harus dihafalkan. Selain bunga (aku lupa jenis-jenisnya), ayam hitam mulus bakal disembelih dan diambil darahnya. Persis tengah malam, ritus pun digelar diam-diam (tanpa sepengetahuan ayah yang memang tidak setuju dan melarangku mewarisi ilmu), di rumah seorang paman.
Jumat sore, sekitar azan magrib, aku sedang menggerogoti tulang ayam di dapur ketika adik perempuanku memberi tahu, kakek memanggil-manggil namaku. Nadanya setengah panik. Aku berlari ke biliknya. Dan, kakek tergolek di ambennya. Telentang. Tangan kiri masih memegang rokok "tingwe" (melinting dewe/lintingan sendiri) yang masih menyala. Di kursi, piring makannya sudah kosong. Tinggal tulang paha ayam. Ketika tubuhnya kuguncang-guncang, kakek tetap bergeming. Tak menjawab. Tak bergerak. Dan, bernapas pun tidak.
Ya, kakek telah dipundut Gusti, hanya selang 18 jam setelah mewariskan ilmu sialan itu kepadaku!
Digedor-gedor rasa bersalah, aku mengguguk. Seingatku, itulah kali terakhir aku menangis... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar