23 Desember 2011
Benda eksotis itu disebut handphone. Bahasa lokalnya, telepon genggam. Orang-orang di kampungku, supaya gampang, lebih suka menyebutnya hape.
Alat komunikasi kontemporer yang canggih itu tampaknya begitu populis hingga berhasil merambah lembah dan mendaki puncak gunung. Populasinya begitu bengkak hingga menggapai pelosok-pelosok terpencil yang terselip di antara lereng-lereng Wilis. Rupanya ia sangat egaliter, tanpa secuil pun sentimen sosial. Pun tanpa diskriminasi seksual. Siapa saja bisa memilikinya. Dari presiden di istana sampai pemulung yang melata di jalan raya. Tak usah kaget, jika pengemis tua yang setia mangkal di perempatan jalan antara Antapani dan Kiaracondong Bandung getol memencet-mencet hape di sebelah tangan, sementara tangan yang lain sibuk ngatong untuk meminta recehan. Juga tak usah heran, jika tukang ngarit -- pencari rumput, di sawah atau tegalan yang berserak di perbukitan di seputar Pohsarang juga membawa-bawanya.
Di kampungku, hape juga bukan barang mewah lagi. Sekurangnya dalam 10 tahun terakhir, benda ajaib yang pertama kali didemonstrasikan oleh Dr. Martin Cooper dari Motorola pada 1973 denganhandset seberat 1 kilogram itu memang tidak elitis lagi. Harga handset-nya tidak selalu berbilang jutaan rupiah. Ada yang cuma ratusan ribu, dengan performance yang tak kalah keren dan nggaya. Dengan fitur dan fasilitas yang sama-sama memikat dan lengkap. Dengan nomor perdana dan pulsa prabayar yang harganya murah meriah, hape pun menjangkau segala lapisan masyarakat.
Padahal, sekitar 15 tahun silam, harga handset Ericsson (aku lupa tipenya) setara dengan sebulan gaji wartawan. Harga nomor perdana, pada 1995 untuk Kartu Halo punya Telkomsel, sebesar Rp1,2 juta dan ini hampir setengah gaji sebulan. Lagi pula, selama dua minggu hanya bisa dielus-elus atau dipandangi. Belum aktif. Sekarang, begitu dibeli, langsung kring. Saking murahnya, sampai-sampai banyak orang mampu berganti-ganti nomor. Sekali pakai, langsung buang...
Hanya orang yang kelewat udik yang tidak tahu kegunaan hape. Siapa pun yang hendak membelinya paham, barang itu merupakan alat komunikasi -- sebuah varian baru dari telepon rumah. Itulah fungsi utamanya. Belakangan, fungsi itu kian berkembang. Tidak hanya untuk telepon-teleponan. Canggihnya teknologi telah menyulapnya menjadi alat yang betul-betul multifungsional: bermain game, mendengarkan radio, menonton siaran televisi, menyetel musik, memotret, dan berinternetan. Internetan pun bisa macam-macam, dari kirim-kiriman email hinga facebook-an dan twitter-an.
Tentu saja, tidak setiap orang memanfaatkan segala fasilitas itu. Ada yang merasa tidak atau belum butuh. Ada yang memang gagu alias "gaptek" -- gagap teknologi. Tetapi minimal, fungsi utamanya sebagai alat komunikasi tidak sia-sia. Dengannya orang kampung menelepon teman, jauh atau dekat. Atau, SMS-SMS-an.
Pertanyaannya, seberapa urgen hape dibawa-bawa tukang ngarit ke sawah? Seberapa besar dan seberapa mendesak kebutuhan untuk saling berkomunikasi ketika tengah menyabit rumput untuk pakan ternak di rumah? Selama dua atau tiga jam mencari rumput, mungkin tak satu pun SMS atau panggilan telepon yang masuk. Benda itu hanya membisu di saku. Sesungguhnya, kalaupun ditinggalkan di rumah, tak ada masalah.
Artinya, kalau dibawa-bawa ke sawah juga, bukan karena penting untuk berkomunikasi dan tiap saat diperlukan untuk berhubungan dengan sesama. Benda itu dibawa, bukan karena kegunaannya. Ia dibawa ke mana-mana, bahkan sewaktu beol di kali, untuk gagah-gagahan. Ia tak bisa ditinggalkan begitu saja karena telah menjadi bagian dari gaya hidup. Ia telah menjadi simbol penting yang diperlukan untuk mempertunjukkan identitas diri. Seperti setumpuk kartu ATM dan kartu kredit yang perlu dipajang rapi di dompet dan begitu dibuka orang lain akan langsung melihat dan terbeliak takjub. Tak bisa tidak, hape memang telah menjadi lambang modernitas, di sebuah zaman yang hiruk pikuk ketika dunia tak lagi berjarak.
Setelah hape mewabah ke mana-mana, ada pemandangan yang berubah. Jarang terlihat lagi mbak-mbak, mbok-mbok atau mbah-mbah yang berkerumun di emper rumah untuk petan. Saling mencari kutu. Sambil bergunjing, tentu. Kalaupun berkumpul, bukan semata untuk petan. Bukan panorama aneh jika di gardu ronda di pojok kebun simbokku beberapa perempuan, tua-muda, nongkrong untuk ngadem, sambil bertelepon-teleponan. Atau, ber-SMS-an.
Juga, setelah banyak orang punya hape, warung kopi adikku jadi lebih semarak. Bukan karena semakin banyak klien yang datang untuk menyeruput segelas teh atau kopi manis. Dan, berlama-lama nangkring untuk mengobrol tanpa juntrungan. Di sela kelakar dan obrolan, tak jarang hape tiba-tiba memekik. Dalam berbagai nada dan lagu. Dan, dengan volume yang disetel keras-keras, yang acap mengagetkan rekan yang duduk bersebelahan.
Bukan aneh pula jika ada saja orang yang tak cukup beretiket atau bertenggang rasa. Tanpa canggung, koleksi lagu di hape diputar. Kencang-kencang. Lagu campursari atau dangdut koplo -- sebutan orang di kampungku untuk genre dangdut yang di tempat lain dinamai dangdut pantura. Ia tak tahu, atau tak peduli, bahwa lagu itu bisa mengganggu telinga orang lain. Ia tak ngedong, bahwa dengan memutar lagu yang belum tentu disukai orang lain yang punya selera dan apresiasi musik berbeda, berarti tak bertenggang rasa. Bahwa, tanpa disadari ia telah menjadi fasis kecil-kecilan yang merampas hak orang lain yang tak mau mendengar musik yang tak disukainya. Dalam perspektif eksistensialisme, hanya karena menyetel lagu keras-keras ia telah merampas hak orang lain untuk tidak mendengarkan lagu itu. Berarti pula, ia sudah melakukan penindasan. Kezaliman.
Dengan kalimat berbeda, ia telah menjadi neraka bagi orang lain. Sekurang-kurangnya, bagiku...