Rabu, 07 Desember 2011

Setelah Senja di Terminal Leuwi Panjang

oleh: Giyarno Emha


Kudengar senandung luka lewat suara sumbang bocah pengamen dan pengemis, ketika senja baru saja turun dan waktu berhenti dalam gerimis. Bus senantiasa datang dan pergi, menembus lorong-lorong kabut, ke kota-kota tak bernama
yang tak ada dalam peta

Selalu ada yang pergi, selalu ada yang tiba. Tanpa tujuan. Tanpa mula. Dalam bus tak bersopir. Tak berkaca. Lewat jalan-jalan
tak berujung. Ke rumah-rumah tak beralamat. Ke ujung waktu yang tak terbaca. Ke buku-buku tanpa aksara

Angin berhenti entah di mana ketika kudengar jeritan
aneka rupa. Langit terbakar sunyi yang dulu juga
sebelum hari-hari membeku di beranda setelah berabad-abad rinduku terkubur dalam debu, melewati perang demi perang dalam kesunyian Golgotha.

Kalau saja bus tak senantiasa pergi dan kita tak senantiasa mengembara, barangkali di terminal ini ada tugu yang mengabadikan nama-nama. Dan derita kita.
(April  2004)
Antologi 20 Penyair, Juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar