oleh: Giyarno Emha
dingin, mendesir lagi
dingin, mendesir lagi
ranting patah hatiku, gundah menggebu
pada wajah malam kurengkuh matahari
selalu saja mengusapku, sepi yang dahulu
padahal musim semi, kupu dan bunga
bunyi genta nun jauh dan azan senja
malam yang kudus tak hendak menutup pintu
wangi musim di beranda, barangkali untukku
bertolak pingganglah menantang matahari, katamu
busungkan dada berbulu
sebab telah terpahat restu wingit, pada kakilangit
manusia mesti kembara menjelajah laut nasib
selalu kelam membawa terang, beribu warna masa depan
baiklah! Sabda itu pun sampai padaku
mesti kugenapkan fatwa leluhur, kurengkuh hidup
tanpa mengaduh
seperti laut, tak henti memantai
padamu jua mungkin ‘ku datang, dengan wajah teduh
(1981)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar