10 Desember 2011
Anda tahu tiwul?
Terhadap makanan yang dibuat dari gaplek (singkong yang dikeringkan) itu aku "benci tapi rindu". Ya, bagiku tiwul tersulap menjadi satu simbol kemiskinan yang dahulu membuatku selalu berkhayal tentang lezatnya nasi putih (dari beras) dan sepotong paha ayam goreng. Bagaimana tidak!
Sampai masa remajaku, di Pohsarang (Kediri), tanah kelahiranku, tiwul menjadi makanan pokok. Bukan karena "nasi cokelat kehitaman" itu lebih enak ketimbang nasi putih. Beras merupakan benda mewah yang sukar dijangkau oleh kebanyakan penduduk yang terhitung miskin. Di sinilah ironi itu: sebagian besar warga yang bekerja sebagai petani atau buruh tani justru tak mampu membeli beras yang ditanamnya sendiri. Kalaupun punya gabah, mending disimpan sebagai investasi ketimbang ditumbuk untuk dijadikan beras dan dikonsumsi. Keluarga berkecukupan pun belum tentu rutin menyantap nasi putih, meskipun di pedaringan tersimpan selumbung dan bergentong-gentong gabah. Masalahnya, sebagai menu utama sehari-hari nasi tiwul -- ada yang 100 persen "tiwul nyel", ada yang mencampurnya dengan beras -- sudah mentradisi. Di mana-mana dan siapa saja makan tiwul.
Bisa dibilang, aku lahir, tumbuh dan besar karena tiwul. Dengan kata lain, akulah anak singkong itu!
Oleh simbokku, aku memang rutin dicekoki dengan nasi dwiwarna: tiwul yang cokelat kehitaman campur beras yang putih. Unsur tiwul lebih dominan dan beras cuma sebagai varian. Rasanya? Hemm... Jika diguyur dengan sayur berkuah, jadi bonyok -- begitu becek dan lembek dan licin melebihi mencretan bayi. Cocok untuk kakek-nenek yang ompong, karena tak perlu dikunyah lagi dan tinggal ditelan. Jika sudah dingin dan seharian disimpan, ia akan mengeras seperti karak (sisa nasi yang dikeringkan) dan sulit ditelan. Dibutuhkan sekendi air putih agar mudah tertelan.
Padahal, yang namanya menu harian, nyaris hanya terdiri dari nasi plus sayur. Sekali-sekali memang ada lauk istimewa: sekeping kerupuk, sepenggal gerih (sejenis ikan asin) bakar atau sepotong balur (ikan asin yang digoreng dengan tepung). Tahu atau tempe goreng? Hanya ada pada saat syukuran, hajatan atau hari raya. Telur dan daging-dagingan? Setahun sekali baru tercicipi! Soto, kare, sate, atau gulai -- jenis-jenis makanan yang pada era itu kuanggap paling lezat di jagat raya -- hanya menjadi daftar menu yang tertera indah dalam khayalan!
Kini, setelah menjadi urban di Bandung dan Jakarta, pandanganku tidak berubah. Tiwul tetap simbol kemiskinan. Sekurangnya aku ingin tetap menganggapnya demikian, agar aku bisa merasa seolah-olah kaya atau makmur karena mampu membeli beras dan makan nasi putih. Aku sama sekali tak keberatan jika anak-anakku menolak mencicipinya, atau menyebutnya sebagai makanan kampungan.
Namun, sekali waktu aku kangen dan minta istriku membeli tiwul olahan (yang dilumuri gula jawa dan parutan kelapa) di pasar. Entah bagaimana, kini di lidah terasa lezat dan di hati terasa eksotis....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar